Jumat, 10 Februari 2012

Mungkin alasan utama saya bisa menginjakan kaki di Pulau Bobale adalah bahwa kebetulan saya sedang melaksanakan KKN di daerah dekat dengan Pulau Bobale –tepatnya di desa Daru.

Sebagaimana kewajiban setiap mahasiswa akhir yakni harus turun kedalam kenyataan ditengah masyarakat –entah demi mengaplikasikan ilmu kuliah, atau sekadar merasakan menjadi masyarakat sebenarnya- yang dalam istilah kampus dikenal dengan singkatan KKN (Kuliah Kerja Nyata). Kami mahasiswa angkatan 2008 pun diharuskan melaksanakan KKN yang kali ini oleh pihak kampus difokuskan pada wilayah Kao, Kabupaten Halmahera Utara. Beberapa kelompok mendapat tempat di Kecamatan Kao Utara, dan dua tempat yang paling berdekatan di Kec. Kao Utara ini adalah: (1) Desa Daru (ibukota kecamatan) tempat dimana kelompok saya, dan (2) Desa Bobale –suatu desa pulau yang berada persis di depan daratan Daru.

Tobelo Pulau Bobale
Setelah mendengar dari teman-teman di Pulau Bobale bahwa disana punya pantai yang indah dan juga terdapat bunker jepang peninggalan perang dunia ke dua, saya pun mencari cara agar bisa menyebrang sebentar kesana untuk melihatnya. Gayung bersambut, ternyata di Pulau Bobale akan melaksanakan pelantikan Kepala Desa yang baru, dan kelompok KKN kami diundang mengikuti syukuran pelantikan itu.

Untuk ke Pulau Bobale, kami menggunakan perahu ketinting dari pelabuhan desa Daru. Perahu ketinting ini sendiri umumnya milik masyarakat Bobale sebagai sarana transportasi dari dan keluar pulau. Setiap pagi hari perahu ketinting selalu datang dari Pulau Bobale membawa anak-anak serta masyarakat untuk sekolah juga beraktifitas lain, dan pada sore hari ketinting kembali lagi menuju Pulau Bobale membawa mereka pulang.

Dengan perahu ketinting, perjalanan menyebrang laut dari desa Daru memakan waktu sekitar 15 menit. Mendekati Pulau Bobale, saya bisa melihat ada jembatan kayu kecil yang diatasnya terlihat ada beberapa anak-anak sedang bermain. Semakin dekat saya juga bisa melihat air laut yang jernih tersapu buih laju perahu. Sesekali dengan samar saya melihat jajaran terumbu karang dan ikan-ikan besar bermain di air yang warnanya perpaduan biru dan hijau itu.

Begitu sampai di atas jembatan kayu Pulau Bobale, barulah saya tahu kalau yang diatas jembatan ini bukanlah anak-anak sedang bermain, tetapi mereka tengah asik memancing ikan. Melihat anak-anak kecil ini yang dengan gampangnya mendapat ikan, saya yakin bahwa pulau ini masih cukup terjaga alamnya.

Anak-anak tengah asik memancing ikan di jembatan kayu.
Disepanjang garis pantai disekitar jembatan tempat saya turun terlihat sudah ada beberapa gazebo –semacam rumah payung mungil yang biasanya diperuntukan sebagai tempat santai pengunjung- yang berjajar rapi. “di sudut inilah tempat para pengunjung sering berenang dan bermain air,” seorang teman menjelaskan sambil menunjuk nunjuk sekitar jembatan. Saya dan rombongan dari desa Daru lalu dibawa ke tempat acara pelantikan Kepala Desa.

Setelah beberapa saat mengikuti seremoni acara pelantikan dan tidak lupa turut ambil bagian makan siang hehe, saya lalu meminta kepada beberapa teman KKN Pulau Bobale supaya mengantar saya melihat bunker jepang.

Ronggeng di acara pelantikan kades Pulau Bobale.
Beberapa teman kemudian membawa saya melewati sela-sela kebun masyarakat yang dominan dihuni tanaman kelapa. Berjalan kaki sekitar 15 menit, saya kemudian bisa melihat bangunan dari beton itu.

Bunker ini tepat menghadap ke arah laut lepas. Didalam bunker terdapat beberapa ruangan dan ada dua lubang udara seperti cerobong asap untuk sirkulasi dari dan kedalam bunker. Mungkin bunker di Pulau Bobale ini diperuntukan mengamati dan menghalau tentara sekutu yang datang.

Bunker Jepang.


Perairan Pulau Bobale menurut saya termasuk dalam kategori baik. Paling tidak, meski hanya sepintas, hal itu bisa saya lihat secara kasat mata. Pesisir pantai –terutama di bagian tempat wisatanya- terlihat bersih, perairannya jernih sehingga pas untuk berenang atau bermain air, pasir pantainya sendiri cukup lembut. Perairan Pulau Bobale saya katakan baik juga dengan kenyataan bahwa hasil laut disekitar pulau masih terbilang melimpah. Ketika mengikuti acara syukuran pelantikan kades tadi, sewaktu jamuan makannya, saya bisa melihat diatas meja ada banyak hasil laut yang disajikan: udang lobster, aneka ikan karang, dll.

Teman-teman KKN di Pulau Bobale.
Satu hal yang belum sempat saya lakukan saat mengunjungi Pulau Bobale adalah menyelam dan menikmati bawah laut pulau ini yang oleh beberapa orang dikatakan cukup indah. Mungkin ketika saya datang ke Pulau Bobale lagi, dan jika paing tidak peralatan snorkeling saya sudah lengkap hehe, saya tidak akan melewatkan keindahan bawah laut Pulau Bobale -semoga.