Mungkin alasan utama saya bisa
menginjakan kaki di Pulau Bobale adalah
bahwa kebetulan saya sedang melaksanakan KKN di daerah dekat dengan Pulau Bobale –tepatnya di desa Daru.
Sebagaimana kewajiban setiap
mahasiswa akhir yakni harus turun kedalam kenyataan ditengah masyarakat –entah
demi mengaplikasikan ilmu kuliah, atau sekadar merasakan menjadi masyarakat
sebenarnya- yang dalam istilah kampus dikenal dengan singkatan KKN (Kuliah
Kerja Nyata). Kami mahasiswa angkatan 2008 pun diharuskan melaksanakan KKN yang
kali ini oleh pihak kampus difokuskan pada wilayah Kao, Kabupaten Halmahera
Utara. Beberapa kelompok mendapat tempat di Kecamatan Kao Utara, dan dua tempat
yang paling berdekatan di Kec. Kao Utara ini adalah: (1) Desa Daru (ibukota
kecamatan) tempat dimana kelompok saya, dan (2) Desa Bobale –suatu desa pulau yang berada persis di depan daratan Daru.
Untuk ke Pulau Bobale, kami menggunakan perahu
ketinting dari pelabuhan desa Daru. Perahu
ketinting ini sendiri umumnya milik masyarakat Bobale sebagai sarana
transportasi dari dan keluar pulau. Setiap pagi hari perahu ketinting selalu datang dari Pulau Bobale membawa anak-anak serta masyarakat untuk sekolah juga
beraktifitas lain, dan pada sore hari ketinting kembali lagi menuju Pulau Bobale membawa mereka pulang.
Dengan perahu ketinting, perjalanan menyebrang laut dari desa Daru memakan
waktu sekitar 15 menit. Mendekati Pulau
Bobale, saya bisa melihat ada jembatan kayu kecil yang diatasnya terlihat
ada beberapa anak-anak sedang bermain. Semakin dekat saya juga bisa melihat air
laut yang jernih tersapu buih laju perahu. Sesekali dengan samar saya melihat jajaran
terumbu karang dan ikan-ikan besar bermain di air yang warnanya perpaduan biru
dan hijau itu.
Begitu sampai di atas jembatan
kayu Pulau Bobale, barulah saya tahu
kalau yang diatas jembatan ini bukanlah anak-anak sedang bermain, tetapi mereka
tengah asik memancing ikan. Melihat anak-anak kecil ini yang dengan gampangnya
mendapat ikan, saya yakin bahwa pulau ini masih cukup terjaga alamnya.
| Anak-anak tengah asik memancing ikan di jembatan kayu. |
Setelah beberapa saat mengikuti
seremoni acara pelantikan dan tidak lupa turut ambil bagian makan siang hehe, saya lalu meminta kepada beberapa
teman KKN Pulau Bobale supaya
mengantar saya melihat bunker jepang.
Beberapa teman kemudian membawa
saya melewati sela-sela kebun masyarakat yang dominan dihuni tanaman kelapa.
Berjalan kaki sekitar 15 menit, saya kemudian bisa melihat bangunan dari beton
itu.
Bunker ini tepat menghadap ke
arah laut lepas. Didalam bunker terdapat beberapa ruangan dan ada dua lubang
udara seperti cerobong asap untuk sirkulasi dari dan kedalam bunker. Mungkin
bunker di Pulau Bobale ini
diperuntukan mengamati dan menghalau tentara sekutu yang datang.
Perairan Pulau Bobale menurut saya termasuk dalam kategori baik. Paling
tidak, meski hanya sepintas, hal itu bisa saya lihat secara kasat mata. Pesisir
pantai –terutama di bagian tempat wisatanya- terlihat bersih, perairannya
jernih sehingga pas untuk berenang atau bermain air, pasir pantainya sendiri
cukup lembut. Perairan Pulau Bobale saya
katakan baik juga dengan kenyataan bahwa hasil laut disekitar pulau masih
terbilang melimpah. Ketika mengikuti acara syukuran pelantikan kades tadi,
sewaktu jamuan makannya, saya bisa melihat diatas meja ada banyak hasil laut
yang disajikan: udang lobster, aneka ikan karang, dll.
Satu hal yang belum sempat saya
lakukan saat mengunjungi Pulau Bobale adalah menyelam dan menikmati bawah laut
pulau ini yang oleh beberapa orang dikatakan cukup indah. Mungkin ketika saya
datang ke Pulau Bobale lagi, dan
jika paing tidak peralatan snorkeling saya sudah lengkap hehe, saya tidak akan melewatkan keindahan bawah laut Pulau Bobale -semoga.

