Nama desa Mamuya
saya pastikan terdengar ketika bicara mengenai tempat Pemandian Air Panas di
Kabupaten Halmahera Utara (Kab. Halut) -terlebih khusus jika membatasinya
dengan kalimat disekitaran Tobelo.
Pemandian
Air Panas yang berada di desa Mamuya, Kecamatan Galela ini serupa kolam yang
terbentuk secara alami. Air panasnya sendiri keluar dari bebatuan sekitar. Dari
kolam ini, air panas kemudian mengalir menuju laut di depan desa. Dibeberapa
bagian tempat air panas mengalir tumbuh dengan subur tanaman Kangkung (Ipomea sp.) yang
sering dijadikan menu sayur masyarakat.
Bagi saya lokasi Pemandian Air Panas di desa Mamuya ini terbilang cukup khas karena berada persis di kaki Gunung Mamuya. Dari Tobelo (ibukota Kab. Halut) butuh waktu sekitar 25 menit dengan sepedamotor untuk bisa tiba di Pemandian Air Panas ini. Pemandian Air Panas ini sendiri dapat dikatakan satu-satunya tempat Pemandian Air Panas yang ada di Kab. Halut.
Dulu
bila hendak berendam pengunjung harus menuruni semacam lereng tanah demi sampai
di kolam dibawahnya, saat ini saya hanya perlu menapaki anak tangga beton yang
dibangun oleh pemerintah. Di kolam dibawahnya kini telah di betonkan dinding
tepian yang sebelumnya tanah. Terlihat sudah juga dibangun beberapa rumah
payung menyerupai pohon jamur yang diperuntukan bagi pengunjung untuk
bersantai. Bagian dasar kolam pemandian yang dalamnya hanya seukuran perut
orang dewasa ini sendiri berupa bebatuan kecil serupa kerikil sehingga tidak
menimbulkan becek saat
di tapaki sebagaimana dulu.
Hingga tulisan ini
diorbitkan ciye
ciye bahasanya haha, yang menjadi semacam ironi bagi saya:
sebenarnya tempat yang selalu digunakan orang-orang untuk berendam bukan
merupakan tempat yang diperuntukan bagi para pengunjung. Bersebelahan dengan
tempat itu ada tempat yang telah dibangun pemerintah untuk pengunjung yang
datang untuk mandi dsb. Namun sangat tragis nasib tempat itu, kolam
keramik dan segala atributnya yang sudah menguras berbagai sumberdaya ketika
dibangun hanya ditinggal terbengkalai dan akhirnya kotor tidak terawat seumpama
rumah di film horror saja. Saya tidak tahu apa soal sehingga tempat itu
ditinggal teronggok sedemikian rupa. Mungkin ini harus jadi bahan diskusi oleh
berbagai pihak (Pemda atau Pemdes) agar kedepannya tempat Pemandian Air Panas
ini menjadi lebih bersahabat kepada pengunjung.
Satu hal
yang juga jadi catatan penting supaya tempat ini bisa lestari adalah rasa cinta
terhadap alam harus ada dalam diri setiap orang (baik masyarakat, pengunjung
maupun pengelola). Kebiasaan buang sampah sembarangan harus ditiadakan
–termasuk didalamnya abu dan puntung rokok hehe, juga jangan mengotori tempat
pemandian ini dengan mencuci pakaian atau mandi menggunakan sabun didalam
kolamnya.
Untuk
datang berendam di Pemandian Air Panas Mamuya saya akan
memilih bukan pada hari libur, sebab jika datang ketika hari libur saya
pastikan di kolam pemandian akan ada jutaan umat manusia yang juga berendam dan
otomatis mengakibatkan pengunjung tidak akan bisa menikmati sensasi berendam
air panas sebagaimana mestinya.
Sekali
lagi saya berharap kepada para pihak terkait agar lebih memperhatikan Pemandian Air
Panas Mamuya ini. Jika tempat ini telah baik pada setiap komponennya,
saya yakin akan membawa dampak positif bagi masyarakat sebab sebagaimana
hukumnya: pengunjung akan dengan sukarela datang bahkan memberi tip lebih bila
merasa puas –saya juga (^^)

0 comments:
Posting Komentar
Terima Kasih Sudah Berkunjung,
Mohon Tinggalkan Komentar Yang Konstruktif // Hanya Komentar Yang Berkualitas & Sesuai Dengan Isi Artikel Diatas Yang Akan Ditampilkan // Mari Saling Membangun
Salam (^^)