Minggu, 10 September 2017

Nama desa Mamuya saya pastikan terdengar ketika bicara mengenai tempat Pemandian Air Panas di Kabupaten Halmahera Utara (Kab. Halut) -terlebih khusus jika membatasinya dengan kalimat disekitaran Tobelo.

Pemandian Air Panas yang berada di desa Mamuya, Kecamatan Galela ini serupa kolam yang terbentuk secara alami. Air panasnya sendiri keluar dari bebatuan sekitar. Dari kolam ini, air panas kemudian mengalir menuju laut di depan desa. Dibeberapa bagian tempat air panas mengalir tumbuh dengan subur tanaman Kangkung (Ipomea sp.) yang sering dijadikan menu sayur masyarakat.


Bagi saya lokasi Pemandian Air Panas di desa Mamuya ini terbilang cukup khas karena berada persis di kaki Gunung Mamuya. Dari Tobelo (ibukota Kab. Halut) butuh waktu sekitar 25 menit dengan sepedamotor untuk bisa tiba di Pemandian Air Panas ini. Pemandian Air Panas ini sendiri dapat dikatakan satu-satunya tempat Pemandian Air Panas yang ada di Kab. Halut.

Dulu bila hendak berendam pengunjung harus menuruni semacam lereng tanah demi sampai di kolam dibawahnya, saat ini saya hanya perlu menapaki anak tangga beton yang dibangun oleh pemerintah. Di kolam dibawahnya kini telah di betonkan dinding tepian yang sebelumnya tanah. Terlihat sudah juga dibangun beberapa rumah payung menyerupai pohon jamur yang diperuntukan bagi pengunjung untuk bersantai. Bagian dasar kolam pemandian yang dalamnya hanya seukuran perut orang dewasa ini sendiri berupa bebatuan kecil serupa kerikil sehingga tidak menimbulkan becek saat di tapaki sebagaimana dulu.

Hingga tulisan ini diorbitkan ciye ciye bahasanya haha, yang menjadi semacam ironi bagi saya: sebenarnya tempat  yang selalu digunakan orang-orang untuk berendam bukan merupakan tempat yang diperuntukan bagi para pengunjung. Bersebelahan dengan tempat itu ada tempat yang telah dibangun pemerintah untuk pengunjung yang datang untuk mandi dsb. Namun sangat tragis nasib tempat itu, kolam keramik dan segala atributnya yang sudah menguras berbagai sumberdaya ketika dibangun hanya ditinggal terbengkalai dan akhirnya kotor tidak terawat seumpama rumah di film horror saja. Saya tidak tahu apa soal sehingga tempat itu ditinggal teronggok sedemikian rupa. Mungkin ini harus jadi bahan diskusi oleh berbagai pihak (Pemda atau Pemdes) agar kedepannya tempat Pemandian Air Panas ini menjadi lebih bersahabat kepada pengunjung.

Satu hal yang juga jadi catatan penting supaya tempat ini bisa lestari adalah rasa cinta terhadap alam harus ada dalam diri setiap orang (baik masyarakat, pengunjung maupun pengelola). Kebiasaan buang sampah sembarangan harus ditiadakan –termasuk didalamnya abu dan puntung rokok hehe, juga jangan mengotori tempat pemandian ini dengan mencuci pakaian atau mandi menggunakan sabun didalam kolamnya.

Untuk datang berendam di Pemandian Air Panas Mamuya saya akan memilih bukan pada hari libur, sebab jika datang ketika hari libur saya pastikan di kolam pemandian akan ada jutaan umat manusia yang juga berendam dan otomatis mengakibatkan pengunjung tidak akan bisa menikmati sensasi berendam air panas sebagaimana mestinya.

Sekali lagi saya berharap kepada para pihak terkait agar lebih memperhatikan Pemandian Air Panas Mamuya ini. Jika tempat ini telah baik pada setiap komponennya, saya yakin akan membawa dampak positif bagi masyarakat sebab sebagaimana hukumnya: pengunjung akan dengan sukarela datang bahkan memberi tip lebih bila merasa puas –saya juga (^^)

0 comments:

Posting Komentar

Terima Kasih Sudah Berkunjung,

Mohon Tinggalkan Komentar Yang Konstruktif // Hanya Komentar Yang Berkualitas & Sesuai Dengan Isi Artikel Diatas Yang Akan Ditampilkan // Mari Saling Membangun

Salam (^^)