Menggunakan perahu ketinting, Pulau Meti dapat dicapai dengan waktu tempuh selama 10 menit dari dermaga Desa Mawea.
![]() |
![]() |
Apa sih yang ada di pulau ini hingga saya harus datang? Oke, jika mendapat pertanyaan seperti ini, saya akan jujur menjawabnya. Namun sebelumnya harus saya tekankan bahwa tentu saja apa yang saya ceritakan disini bersifat subjektif –meskipun selalu berupaya objektif hehe.
Seperti sudah saya katakan, didukung peran sosial media, Pulau Meti sebagai tujuan rekreasi mengorbit cukup cepat dikalangan –khususnya- anak muda Tobelo. Dan hal itu juga jadi alasan mengapa saya datang lagi setelah 3 tahun berlalu.
Begitu perahu ketinting kian dekat daratan Pulau Meti, saya masih setia disambut jembatan kayu mungil yang tetap saja ampuh menghadirkan nuansa ketenangan di hati saya –sebagaimana dulu. Tepat di ujung pangkal jembatan kayu itu, masih juga berdiri dengan renta nan eksotik satu rumah kayu kecil yang kini sedikit dipercantik bilah bambu dibeberapa bagian dindingnya. Saya sangat mengingat rumah ini sebab saat saya pertama kali datang di Pulau Meti dulu, karena hari kemalaman dan cuaca tidak bersahabat waktu itu, maka kami menjadikan rumah ini sebagai tempat bernaung hingga memungkinkan perahu ketinting bisa datang menjemput kami.
Seperti sudah saya katakan, didukung peran sosial media, Pulau Meti sebagai tujuan rekreasi mengorbit cukup cepat dikalangan –khususnya- anak muda Tobelo. Dan hal itu juga jadi alasan mengapa saya datang lagi setelah 3 tahun berlalu.
Begitu perahu ketinting kian dekat daratan Pulau Meti, saya masih setia disambut jembatan kayu mungil yang tetap saja ampuh menghadirkan nuansa ketenangan di hati saya –sebagaimana dulu. Tepat di ujung pangkal jembatan kayu itu, masih juga berdiri dengan renta nan eksotik satu rumah kayu kecil yang kini sedikit dipercantik bilah bambu dibeberapa bagian dindingnya. Saya sangat mengingat rumah ini sebab saat saya pertama kali datang di Pulau Meti dulu, karena hari kemalaman dan cuaca tidak bersahabat waktu itu, maka kami menjadikan rumah ini sebagai tempat bernaung hingga memungkinkan perahu ketinting bisa datang menjemput kami.
Nampaknya dengan mengusung konsep tradisional, disana-sini juga sudah dibuat penunjuk-penunjuk arah dengan bahan kayu dan cat seadanya. O iya, di depan rumah itu, memanfaatkan dua pohon kelapa yang tumbuh berdekatan, ada tulisan besar ‘METI’ yang dibuat menggunakan dahan pohon dsb. yang dapat dilihat oleh siapa saja yang datang –ini jadi semacam icon lho.
Melihat sekilas keadaan saat ini dan dibantu ingatan 3 tahun lalu, menurut saya sebagai tempat rekreasi Pulau Meti masih terbilang sama saja dengan pulau-pulau lain yang biasanya jadi tempat rekreasi di sekitar kota Tobelo. Saya tidak menemukan sesuatu yang begitu membedakan Meti dengan pulau lain yang pernah saya datangi. Pemandangan bawah laut (terumbu karang) di pulau ini sendiri tidak begitu signifikan unggul jika dibandingkan dengan Pulau Kakara yang berada di depan Tobelo misalnya –meskipun diakui saya belum jauh menjelajah tiap sudut bawah lautnya hehehe. Tidak ada juga spot pemecah ombak sebagaimana selalu dicari para peselancar yang bisa menarik mereka datang. Untuk potensi ekowisata mangrove pun secara visual terlihat tidak begitu menjanjikan. Dari ketiga hal itu, menurut saya Pulau Meti tidak begitu berbeda dengan pulau lainnya disekitaran Tobelo khususnya –atau dapat dikata sama saja.
![]() |
![]() |
Meskipun demikian, saya tetap optimis dan mendukung pengembangan potensi Pulau Meti sebagai salah satu tempat rekreasi potensial masyarakat Halut. Hingga tulisan ini diturunkan -sesaat ketika saya datang untuk kedua kalinya, terlihat Pulau Meti sedang berbenah. Tidak saja masyarakat lokal, ada beberapa orang asing (anak muda) yang masing-masing tengah serius mengerjakan beberapa hal menurut bisikan konon beberapa bagian pulau ini sudah diserahkan kepada investor asing sebagai pengelolanya. Apapun yang terjadi di tubuh Pulau Meti, saya mendoakan semoga semuanya mendatangkan kesejahteraan bagi masyarakatnya. Dan kami masyarakat sekitar, paling tidak punya tambahan referensi satu tempat lagi jika hendak rekreasi.
PS: Saya ingin kembali lagi ke Pulau Meti. Hal belum saya lakukan adalah duduk menanti sunset bersama cangkir kopi diatas dermaganya. Ya, saya harus mewujudkan itu (^^)







0 comments:
Posting Komentar
Terima Kasih Sudah Berkunjung,
Mohon Tinggalkan Komentar Yang Konstruktif // Hanya Komentar Yang Berkualitas & Sesuai Dengan Isi Artikel Diatas Yang Akan Ditampilkan // Mari Saling Membangun
Salam (^^)