Jumat, 21 Mei 2021

Apakah wajar mengharapkan keadilan dalam percintaan? Pertanyaan yang aneh memang.

Cinta itu sendiri kan adalah bukti keadilan. Kalo memang betul sayang ya janganlah mengharap apa apa. Cinta yang tulus itu tak bersyarat -seperti kata para pujangga.

Memang menyakitkan bila mencinta, memberikan segalanya yang ada, namun tak imbang dengan yang didapatkan. Itu sungguh menyiksa diri -terutama hati. Menderita memang. Sakit. Tapi aneh, sakit yang demikian perih tak muncul dari luka atau tak ada bukti pada raga darimana sakit yang sangat itu berasal. Tubuh terlihat baik saja, namun selalu sakit dirasa.

Pada segala waktu airmata berderai tanda rasa sakit muncul dalam diri. Tapi mana luka itu? Kok raga terlihat sehat saja?

Tidak wajar memang berharap ada peri keadilan dalam cinta. Tapi setidaknya mengertilah sedikit. Bila belum mampu membalas cinta, mulailah dulu dengan jangan menyakiti hati.

Indah pacaran bertahun dirusak dengan kenyataan ditipu tahunan.

Tidak banyak yang dikorban memang -karena tidak banyak juga yang dipunya, tapi segala yang tidak banyak itulah yang sudah diberi demi menunjukan cinta.

Tapi ternyata segala yang ada itu -yang mungkin secuil dimatanya- dibalas serentetan gores luka selama bertahun. Lalu saat marah datang dan diluapkan hati, serasa tak salah orang itu tak sedikitpun merasa bertanggung jawab.

Cobalah sedikit resapi perasaan orang yang dilukai. Bagaimana dikhianati, dimatikan pelan pelan, ditakberartikan pengorbanannya.

Tapi memang tidak bisa disalahkan atau menyalahkan pihak lain. Yang salah adalah diri sendiri. Yang bodoh adalah diri ini. Mengapa memilih orang itu? Andai saja mencari dengan saksama sampai bertemu kekasih yang kekuatan cintanya sama.

Saling memberi dengan ketulusan yang sama dan pastinya mendapatkan semuanya sama bersama.

Oh iya, sesuatu yang menggelikan itu ketika seseorang melukai orang lain kemudian menganggap segalanya akan selesai dengan permintaan maaf. "Saya minta maaf," sambil berharap segala yang sudah terjadi ditinggalkan demi masa depan. Tapi apakah kamu bersedia jika diminta harus merasakan dengan persis apa yang orang itu rasa waktu disakiti?

Sangat tidak wajar jika kemudian berkata ITU TIDAK ADIL.

Kamis, 20 Mei 2021

Ada yang bilang kalo orang yang segala sesuatu selalu dikaitkan mitos -atau mistis- merupakan orang kuno yang harusnya sudah lenyap ditelan zaman. Tidak boleh beli garam malam hari, silet juga, lewat jalan angker harus klakson, dan hal semacam itu sudah dikata tak lumrah di zaman now. Lalu apakah kedutan di mata saya ini juga sudah hilang makna mistis yang sebenarnya bagus artinya itu?

Kata orang jika ada kedutan di mata berarti ada yang mengingatmu. Ada orang yang memikirkanmu.

Sudah beberapa hari ini mata kiri saya berkedut. Kedutan yang tidak sebentar-sebentar, malah selalu.

Awalnya diabaikan, tapi lama-lama saking seringnya, saya jadi otomatis mencari sebab musababnya. Dan ditemukanlah kalimat ada yang memikirkan -alih alih mengharapkan rindu. Arti yang serba tak pasti itu membawa saya khayal lebih lagi. Saya bahkan menentukan -lebih tepat menuntut-  harus orang itu. Seseorang yang entah ada di rimba mana kakinya berpijak.

Pede sekali memastikan orang itu. Memang pasti dia yah? Namanya juga mistis, yang penting berarti ada yang ingat dan tidak membatasi kriteria, ya suka-suka saya lah untuk berfantasi. Atau mungkinkah wanita yang adalah bintangnya pembuat luka itu yang mengingat saya. Mungkin juga. Kalau saja dia, maka segala luka yang diberi berulang itu dapat dikata topeng dari rasa cinta yang disembunyikannya. Apapun kenyataannya, biar saja membingungkan pikiran. Yang penting ada seseorang yang mengingatku dikejauhan. Semoga benar merindukanku.

Minggu, 16 Mei 2021

Hal yang membuat kebanyakan orang gila bahkan menyiksa diri adalah berlebihan akan sesuatu. Terutama tentang perasaan. Kebanyakan terlalu mengedepankan rasa dan mengenyampingkan logika dalam segala sesuatu.

Ada orang yang berlebihan peduli terhadap orang lainnya tanpa ada alasan logis kepedulian itu. Menyukai seseorang apalagi. Bagaimana memastikan dua manusia berbeda yang entah asal-muasalnya pasti saling menyukai?

Apakah rasa suka yang sama kuat ada dalam keduanya? Janganlah sampai terjadi: sudah begitu menyukai, memberikan hampir segalanya, tapi tidak dianggap apa apa. Namun terlalu sadis juga jika memanfaatkan orang yang menyukai kita dengan segala tuntutan ini itu tanpa tujuan membalas rasa. Hanya ingin memanjakan diri dari rasa suka orang lain. Tidak pernah ada itikad membalas rasa suka, bahkan bila sudah puas malah hendak memutus hubungan dengan berulang kali melukai hati berharap orang itu bosan dan pergi dengan sendirinya.

Apakah yang lebih sadis dari itu -melukai hati orang yang begitu menyukai kita? Memang poinnya adalah jangan berlebihan menyukai orang lain. Pun begitu, bagaimana caranya mengetahui rasa ini wajar ataukah sudah berlebihan?

Satu-satunya mahluk paling mematikan bisa saja adalah wanita.

Dia bisa menghisap seluruh nadi kehidupan kemudian tanpa sungkan memuntahkan ampas kematian setelah puasnya.

Waspadalah akan mulutnya yang mengalunkan cerita merana berharap pengasihan orang bodoh.

Janganlah buka pintu untuk wanita yang tak pasti seperti itu.

Sebab hanya ada sedikit wanita baik, namun berceceran mereka yang dengan darah dingin siap membunuh.

Senin, 03 Mei 2021

Di meja cafe di sudut ruangan itu seorang pria dengan air muka penuh empati larut menyimak curahan hati teman wanitanya. Entah karena saking dalam cerita itu, kadang dari mata pria terlihat kilau-kilau airmata yang tertahankan. Ada airmata menggenang di dua kelopaknya. Suasana cafe yang sunyi saat itu membuat saya samar-samar mendengar cerita sang wanita dari jarak tiga meja didepan mereka.

saya pernah punya kekasih, katanya.

kami menjalin hubungan sudah lumayan lama, 6 tahun.

mau nikah dong, dia berkata menyambung cerita lama hubungannya.

tapi sayang, ternyata lelaki itu brengsek.

bisakah kamu bayangkan, selama itu dia selingkuh dibelakangku, sembari menarik napas panjang.

saya sebegitu terlukanya saat itu.

segalanya jadi tidak berarti lagi.

tidak mau makan. tidak mau ini. tidak itu. tidak mau keluar kamar. pokonya jadi orang gila deh.

ternyata cinta bisa berakibat sedemikian merusak, hahaha dia mencoba tertawa meski ada kesedihan yang sangat dalam tawa itu

sang pria tidak banyak memberi kalimat. dia mengerti, saat itu lebih baik banyak mendengar saja. Toh segala perkataan tidak akan mengubah hal yang sudah terjadi. Sesekali dia membelai tangan wanita itu demi memberi tanda bahwa segalanya akan baik saja kedepan.

Waktu itu mereka hanya sekali memesan. Wanita itu minum ice cappuccino dan kopi hitam dipilih sang pria. Saat itu saya menikmati kopi susu dan dua toast. Saya bahkan sampai menambah secangkir kopi susu lagi demi kenikmatan jadi saksi drama dua sejoli itu.

Nampaknya waktu itu mereka masih dalam jenjang pendekatan. Belum jadi sepasang kekasih. Tapi saya yakin takan berselang lama mereka akan jadian.

***

Di cafe itu beberapa tahun berselang saya bertemu dengan pria itu lagi. Dia duduk di tempat yang sama bertahun lalu. Tapi kali ini dia seorang diri. Dia belum memesan apapun hingga hampir setengah jam berlalu. Tidak juga ada teman yang datang atau dihubunginya. Dengan sedikit canggung saya menghampiri untuk berbincang.

maaf, boleh saya duduk disini? saya menyapa sambil membawa secangkir kopi.

hah? dia agak kaget melihat saya, boleh silahkan silahkan, sambil mengangkat tas dan bukunya yang berserak di meja.

Saya lalu membuka cerita dengan bicara tentang kebiasaan anak muda dan kehadiran cafe-cafe yang kini mulai menjamur disekitar kota. Pria itu cukup bersemangat dan aktif dalam percakapan. Sesekali dia bicara mengenai musik dan dunia digital yang belakangan digandrungi anak muda. Ditengah percakapan, saya menawari dia minuman yang dengan malu-malu pada akhirnya diterima.

Ketika saatnya pas, saya lalu bertanya mengenai wanita yang dulu duduk dengannya di meja itu. Sejak itu cerita menjadi ironi bagi saya.

eh, ngomong-ngomong, apakah kamu yang dulu duduk disini bersama seorang wanita?

yang itu... hmmm, yang memesan dua minuman tapi ngobrol sampe sore.

saat itu si wanita yang banyak bicara. kamu lebih banyak mendengar.

itu kamu bukan? saya bertanya sambil mereka-ulang kejadian saat itu.

Pria itu awalnya heran. Tapi kemudian dia mengingat-ingat pertanyaan saya. saat itu anda juga ada disini? dia balik bertanya.

iya, saat itu cafe ini tengah sepi pengunjung seperti saat ini, saya kembali menerangkan, kalian berdua duduk di meja ini dengan posisi seperti kita sekarang, kamu disitu dan wanita itu di tempat saya ini.

benar, itu saya, pria itu akhirnya mengaku.

lalu dimana teman wanita itu? apa kalian pacaran saat itu? saya bertanya demi kepuasan rasa penasaran saya dulu.

***

Tidak lama setelah saat itu kami resmi pacaran. Saya begitu sayang padanya. Mungkin bisa dikatakan saya lebih menyayanginya dibanding diri sendiri.

Awalnya dia bercerita pernah menjalin hubungan yang cukup lama tapi dikhianati oleh kekasihnya, dan saya semakin sayang padanya mendegar cerita itu. Saya meyakinkannya tidak akan melukai hatinya. Dan setiap hari saya berusaha membuktikan janji itu. Dia menjadi pusat dari segala sesuatu yang saya lakukan. Saya membwanya masuk ke semua lingkaran pergaulan. Memperkenalkannya sebagai ratu di semesta yang saya bangun. Setiap hari begitu.

Hampir tiga tahun.

Saya yakin dia pasti menjaga cinta yang setiap hari saya beri itu. Pengalaman pasti mengajarkannya agar saling setia.

Tapi,

Kira-kira akhir desember tahun kemarin, entah apa penyebabnya, saya lalu mengetahui dia punya pria lain. Bukan baru satu atau dua hari saja, dia sudah berkhianat bahkan sejak pertama kami pacaran. mengetahui itu, saya merasa jadi manusia paling bodoh se jagad. Sering saya mengutuk diri sendiri. mengutuk dia. mengutuk pria lain itu. bahkan semuanya jadi terkutuk.

Tapi sungguh ironi. Kadang saya merasa lucu mengingat segala kejadian itu. Tetapi dari segala yang terjadi, tahukah anda apa yang paling lucu?

Yang terlucu adalah saya percaya dengan ceritanya. Saya tidak perduli lagi ceritanya nyata atau rekaan semata. Cerita mengenai sebagaimana naasnya dia waktu dikhianati kekasihnya yang sudah lama menjalin hubungan. Bagaimana menderitanya dia. Saya merasa lucu mengingat tentang itu. Ceritanya yang saya dengar di meja ini. Yang membuat saya hampir menumpahkan air mata saat itu. Ternyata dia melakukan dengan persis apa yang diaceritakan dilakukan kekasih masa lalunya. Dia mengkhianati saya selama kami menjalin hubungan. Itulah ironinya. Saya juga punya bagian dalam ceritanya itu. Saya dengan persis mengalami apa yang dialaminya saat dikhianati kekasihnya.

saya sebegitu terlukanya.

segalanya jadi tidak berarti lagi.

tidak mau makan. tidak mau ini. tidak itu. tidak mau keluar kamar. pokonya jadi orang gila.

***

Mendengar ceritanya, saya jadi paham mengapa lelaki itu tidak banyak berkata dulu. Ceritanya penuh dengan luka. Kadang saya juga merasa mata saya seperti basah saat dia berkisah. Saya hanya bisa mengangguk karena kebingungan memilih kalimat yang sesuai untuk ceritanya. Ceritanya mengalir hingga menjelang senja. Kalimat terakhirnya di obrolan kami adalah:

Beberapa orang beruntung mengetahui pengkhianat sebelum terluka lebih dalam, dan beberapa terlanjur pernah dan selamanya hidup dalam penyesalan dengan seorang pengkhianat.

Sabtu, 01 Mei 2021

Sebaiknya jangan sampai terjadi.

Bayangkan saja, sudah berjuang sedemikian peluhnya tapi berakhir dalam penyesalan abadi.

Soal perasaan memang tidak ada rumus pastinya. Sekali melangkah dan kita memasuki alam ketidakpastian. Hitung-hitungan untung rugi, sepadan tidak sepadan, segala yang seperti itu tak berlaku disana!

"Saya kan sudah berjuang untuknya tapi mengapa dia khianat seolah saya mahluk bodoh sejagad?"

Jangan tanya padaku soalan begitu. Mending cermati saksama pasangan masing-masing, buatlah penelitian tentang mereka, seriuslah seperti hendak naik sidang skripsi: racik latar belakang, perkuat metode, bahas mendalam, lalu tarik kesimpulan.

Intinya sebelum memutuskan 'Dia Orangnya' hati-hatilah, sebab bila mereka menghamparkan niat menikah itu bisa jadi dua hal: garis finish kebahagian atau yang kedua jerat penyesalan abadi.