Di meja cafe di sudut ruangan itu seorang pria dengan air muka penuh empati larut menyimak curahan hati teman wanitanya. Entah karena saking dalam cerita itu, kadang dari mata pria terlihat kilau-kilau airmata yang tertahankan. Ada airmata menggenang di dua kelopaknya. Suasana cafe yang sunyi saat itu membuat saya samar-samar mendengar cerita sang wanita dari jarak tiga meja didepan mereka.
saya pernah punya kekasih, katanya.
kami menjalin hubungan sudah lumayan lama, 6 tahun.
mau nikah dong, dia berkata menyambung cerita lama hubungannya.
tapi sayang, ternyata lelaki itu brengsek.
bisakah kamu bayangkan, selama itu dia selingkuh dibelakangku, sembari menarik napas panjang.
saya sebegitu terlukanya saat itu.
segalanya jadi tidak berarti lagi.
tidak mau makan. tidak mau ini. tidak itu. tidak mau keluar kamar. pokonya jadi orang gila deh.
ternyata cinta bisa berakibat sedemikian merusak, hahaha dia mencoba tertawa meski ada kesedihan yang sangat dalam tawa itu
sang pria tidak banyak memberi kalimat. dia mengerti, saat itu lebih baik banyak mendengar saja. Toh segala perkataan tidak akan mengubah hal yang sudah terjadi. Sesekali dia membelai tangan wanita itu demi memberi tanda bahwa segalanya akan baik saja kedepan.
Waktu itu mereka hanya sekali memesan. Wanita itu minum ice cappuccino dan kopi hitam dipilih sang pria. Saat itu saya menikmati kopi susu dan dua toast. Saya bahkan sampai menambah secangkir kopi susu lagi demi kenikmatan jadi saksi drama dua sejoli itu.
Nampaknya waktu itu mereka masih dalam jenjang pendekatan. Belum jadi sepasang kekasih. Tapi saya yakin takan berselang lama mereka akan jadian.
***
Di cafe itu beberapa tahun berselang saya bertemu dengan pria itu lagi. Dia duduk di tempat yang sama bertahun lalu. Tapi kali ini dia seorang diri. Dia belum memesan apapun hingga hampir setengah jam berlalu. Tidak juga ada teman yang datang atau dihubunginya. Dengan sedikit canggung saya menghampiri untuk berbincang.
maaf, boleh saya duduk disini? saya menyapa sambil membawa secangkir kopi.
hah? dia agak kaget melihat saya, boleh silahkan silahkan, sambil mengangkat tas dan bukunya yang berserak di meja.
Saya lalu membuka cerita dengan bicara tentang kebiasaan anak muda dan kehadiran cafe-cafe yang kini mulai menjamur disekitar kota. Pria itu cukup bersemangat dan aktif dalam percakapan. Sesekali dia bicara mengenai musik dan dunia digital yang belakangan digandrungi anak muda. Ditengah percakapan, saya menawari dia minuman yang dengan malu-malu pada akhirnya diterima.
Ketika saatnya pas, saya lalu bertanya mengenai wanita yang dulu duduk dengannya di meja itu. Sejak itu cerita menjadi ironi bagi saya.
eh, ngomong-ngomong, apakah kamu yang dulu duduk disini bersama seorang wanita?
yang itu... hmmm, yang memesan dua minuman tapi ngobrol sampe sore.
saat itu si wanita yang banyak bicara. kamu lebih banyak mendengar.
itu kamu bukan? saya bertanya sambil mereka-ulang kejadian saat itu.
Pria itu awalnya heran. Tapi kemudian dia mengingat-ingat pertanyaan saya. saat itu anda juga ada disini? dia balik bertanya.
iya, saat itu cafe ini tengah sepi pengunjung seperti saat ini, saya kembali menerangkan, kalian berdua duduk di meja ini dengan posisi seperti kita sekarang, kamu disitu dan wanita itu di tempat saya ini.
benar, itu saya, pria itu akhirnya mengaku.
lalu dimana teman wanita itu? apa kalian pacaran saat itu? saya bertanya demi kepuasan rasa penasaran saya dulu.
***
Tidak lama setelah saat itu kami resmi pacaran. Saya begitu sayang padanya. Mungkin bisa dikatakan saya lebih menyayanginya dibanding diri sendiri.
Awalnya dia bercerita pernah menjalin hubungan yang cukup lama tapi dikhianati oleh kekasihnya, dan saya semakin sayang padanya mendegar cerita itu. Saya meyakinkannya tidak akan melukai hatinya. Dan setiap hari saya berusaha membuktikan janji itu. Dia menjadi pusat dari segala sesuatu yang saya lakukan. Saya membwanya masuk ke semua lingkaran pergaulan. Memperkenalkannya sebagai ratu di semesta yang saya bangun. Setiap hari begitu.
Hampir tiga tahun.
Saya yakin dia pasti menjaga cinta yang setiap hari saya beri itu. Pengalaman pasti mengajarkannya agar saling setia.
Tapi,
Kira-kira akhir desember tahun kemarin, entah apa penyebabnya, saya lalu mengetahui dia punya pria lain. Bukan baru satu atau dua hari saja, dia sudah berkhianat bahkan sejak pertama kami pacaran. mengetahui itu, saya merasa jadi manusia paling bodoh se jagad. Sering saya mengutuk diri sendiri. mengutuk dia. mengutuk pria lain itu. bahkan semuanya jadi terkutuk.
Tapi sungguh ironi. Kadang saya merasa lucu mengingat segala kejadian itu. Tetapi dari segala yang terjadi, tahukah anda apa yang paling lucu?
Yang terlucu adalah saya percaya dengan ceritanya. Saya tidak perduli lagi ceritanya nyata atau rekaan semata. Cerita mengenai sebagaimana naasnya dia waktu dikhianati kekasihnya yang sudah lama menjalin hubungan. Bagaimana menderitanya dia. Saya merasa lucu mengingat tentang itu. Ceritanya yang saya dengar di meja ini. Yang membuat saya hampir menumpahkan air mata saat itu. Ternyata dia melakukan dengan persis apa yang diaceritakan dilakukan kekasih masa lalunya. Dia mengkhianati saya selama kami menjalin hubungan. Itulah ironinya. Saya juga punya bagian dalam ceritanya itu. Saya dengan persis mengalami apa yang dialaminya saat dikhianati kekasihnya.
saya sebegitu terlukanya.
segalanya jadi tidak berarti lagi.
tidak mau makan. tidak mau ini. tidak itu. tidak mau keluar kamar. pokonya jadi orang gila.
***
Mendengar ceritanya, saya jadi paham mengapa lelaki itu tidak banyak berkata dulu. Ceritanya penuh dengan luka. Kadang saya juga merasa mata saya seperti basah saat dia berkisah. Saya hanya bisa mengangguk karena kebingungan memilih kalimat yang sesuai untuk ceritanya. Ceritanya mengalir hingga menjelang senja. Kalimat terakhirnya di obrolan kami adalah:
Beberapa orang beruntung mengetahui pengkhianat sebelum terluka lebih dalam, dan beberapa terlanjur pernah dan selamanya hidup dalam penyesalan dengan seorang pengkhianat.