Senin, 18 Februari 2019


Diawali saat muncul secuil jerawat batu akibat beberapa hari malas cuci muka, saya akhirnya sana-sini browsing mencari resep memusnahkannya. Setelah mengobrak-abrik beberapa blog, dan melompat-lompat channel youtube, saya akhirnya menemukan Clindamycin adalah solusi permasalahan itu. Beberapa orang dengan sangat meyakinkan menyebut Clindamycin sebagai obat ampuh pembasmi jerawat.

Sore harinya saya langsung menuju apotik terdekat membeli satu strip Clindamycin 300 mg. Bentuknya kapsul warna biru muda.

Pertama kali saya meminumnya adalah saat selepas makan malam. Dan memang secara kasat mata, saya merasa obat ini punya khasiat karena jerawat batu saya mengecil besoknya. Saya pun dengan semangat ingin segera meminum Clindamycin lagi.

Sebelum berangkat kerja besoknya, saya minum satu butir Clindamycin lagi. Dan awal permasalahannya mulai muncul. Selepas meminumnya, saya merasa panas di bagian dada (ulu hati) hingga ke kerongkongan. Awalnya saya pikir ini akibat saya tidak meminum banyak air waktu menelan obat dan obatnya bereaksi di sekitar tenggorokan. Saya lalu dengan berulang kali meminum banyak air untuk menghilangkannya.

Sampai di rumah sepulang kerja, saya kembali lagi meminum satu butir Clindamycin -kali ini saya menelannya beserta air yang banyak. Tidak lama setelah itu, kembali ulu hati saya sakit terasa seperti terbakar. Saya harus setengah mati menahan sakit di ulu hati setiap kali hendak menelan -entah menelan ludah, makanan, minuman, dsb. Tidak cuma itu, rasa sakit ulu hati juga muncul ketika setiap kali hendak bersendawa.

Selepas kejadian meminum Clindamycin yang ketiga, saya yakin bahwa rasa sakit di ulu hati muncul bukan akibat dari kurang minum air saat menelan obat, melainkan akibat dari obat itu sendiri.

Saya kemudian browsing mencari-cari cara mengatasi sakit ulu hati akibat minum obat, dan ternyata saya menemukan ada banyak kasus orang-orang yang punya cerita yang sama setelah meminum Clindamycin. Dari berbagai cerita itu dan pengalaman saya, bisa dikatakan Clindamycin merupakan antibiotik "keras" yang penggunaannya harus berdasar resep dokter kadang kala bahkan dengan resep dokter pun masih mengalami sakit ulu hati. Sebaiknya waktu hendak meminum Clindamycin adalah selepas makan yang kenyang. Bahkan jika punya riwayat sakit maag atau asam lambung, jangan meminum obat ini.

Jadi, setelah sempat dua hari menahan sakit pasca minum Clindamycin, saya akhirnya memutuskan pergi ke dokter.

Kepada dokter saya bercerita tentang bagaimana awal mula ulu hati sakit serasa terbakar. Setiap hendak menelan sesuatu, saya harus setengah mati menahan sakit di ulu hati. Saya bahkan bisa merasakan bagaimana sakitnya perjalanan makanan atau minuman dari mulut ke sepanjang tenggorokan hingga puncaknya ketika melewati ulu hati. Karena sakit yang sangat itu, saya sampai tidak mau menelan lagi menelan sesuatu apapun.

Dokter mengambil stetoskop dan memeriksa detak jantung saya. Setelah itu dengan senter kecilnya dia juga mengecek mata dan bagian dalam mulut. 

"Kamu alergi obat," kata dokter setelah mendengar dan memeriksa saya, "pasti itu baru pertama kalinya kamu meminum Clindamycin?" tanyanya melanjutkan diagnosa.

Ya benar, memang saya baru pertama kalinya minum Clindamycin. Dan memang selepas minum obat itu barulah ulu hati saya sakit serasa terbakar.

Lebih jauh penjelasan dokter, bahwa akibat alergi Clindamycin itu maka sepanjang saluran pencernaan saya diduga lecet -tidak sampai luka. Akibat lecetnya saluran pencernaan itu maka setiap kali menelan sesuatu akan timbul rasa sakit mulai dari mulut hingga ke ulu hati.

Pada akhirnya, saya diberi empat macam obat: (1) obat dalam bentuk syrup yang oleh dokter dijelaskan gunanya untuk melapisi saluran pencernaan saya; (2) obat maag yang bentuknya kapsul diberikan sebab lambung saya sudah lecet; (3) obat alergi; dan (4) semacam obat penenang yang penggunaannya hanya jika perlu saja. Disamping empat macam obat itu, saya juga dianjurkan untuk banyak beristirahat, akibatnya saya harus izin kerja selama tiga hari.

Setelah tiga hari mengonsumsi obat dari dokter dan banyak istirahat, akhirnya saya merasa kondisi saya sudah jauh lebih baik. Menelan yang dulu selalu menimbulkan sakit di ulu hati, kini sudah tidak dirasakan lagi. Saya yang beberapa hari ini hanya bisa makan bubur, kini sudah bisa kembali mengonsumsi nasi atau berbagai makanan lainnya.

Jadi, mulai sekarang jangan sembarangan minum obat!