Memang
Burung Gereja bukanlah jenis burung yang punya nilai jual tinggi untuk
diburu orang. Baik secara fisik maupun kicauan, Burung Gereja relatif
jauh tertinggal dibanding jenis lain yang selalu jadi incaran para pengamat
burung. Meski begitu, kehadiran burung kecil bewarna cokelat-kehitaman di
sekitar rumah sangat ampuh bawa nuansa alami dan menenagkan.
![]() |
Saya
pribadi sangat senang ketika misalnya di siang hari kala sedang istirahat
kemudian terdengar kicauan Burung Gereja yang saling sahut di pohon
mangga depan rumah. Ataupun juga di waktu sore tingkah sekelompok Burung
Gereja yang lucu dan “nakal” saat cari makan di bagian dapur rumah
menghibur saya yang biasanya sedang ngopi di jam itu.
![]() |
Karena
senangnya melihat burung ini, saya bahkan sampai sempat-sempatnya meletakan
remah makanan atau sedikit beras di bagian sudut rumah yang sering
didatanginya. Hal itu dimaksud agar burung cokelat ini selalu senang bermain di
rumah saya.
Saya
pernah mendengar, sebutan Burung Gereja diberi lantaran dalam catatan
sejarahnya biar terkesan sedikit ilmiah saja haha,
dikarenakan demi terhindar dari predator burung jenis ini selalu mencari tempat
yang tinggi untuk berumah. Dan pada waktu itu karena bangunan yang relatif
tinggi umumnya adalah gedung gereja, maka itulah tempat yang secara insting
dipilih burung ini sebagai tempat bersarang. Jadilah nama Burung Gereja
diberikan.
![]() |
Sedikit
melakukan investigasi widiiihh kaya detektif saja ni
orang saya mencari tahu tentang Burung Gereja lebih jauh. Bagaimana
cara membuatnya sering datang di rumah, membuat tempat makannya, bahkan sampai
bagaimana desain tempat agar burung ini mau membuat sarang di sekitar rumah.
Semoga semuanya bisa saya aplikasikan agar Burung Gereja betah datang maen
di rumah dan terus menghadirkan nuansa alami -setidaknya bagi saya.




