Kamis, 27 Juli 2017

Memang Burung Gereja bukanlah jenis burung yang punya nilai jual tinggi untuk diburu orang. Baik secara fisik maupun kicauan, Burung Gereja relatif jauh tertinggal dibanding jenis lain yang selalu jadi incaran para pengamat burung. Meski begitu, kehadiran burung kecil bewarna cokelat-kehitaman di sekitar rumah sangat ampuh bawa nuansa alami dan menenagkan.

Saya pribadi sangat senang ketika misalnya di siang hari kala sedang istirahat kemudian terdengar kicauan Burung Gereja yang saling sahut di pohon mangga depan rumah. Ataupun juga di waktu sore tingkah sekelompok Burung Gereja yang lucu dan “nakal” saat cari makan di bagian dapur rumah menghibur saya yang biasanya sedang ngopi di jam itu.

Karena senangnya melihat burung ini, saya bahkan sampai sempat-sempatnya meletakan remah makanan atau sedikit beras di bagian sudut rumah yang sering didatanginya. Hal itu dimaksud agar burung cokelat ini selalu senang bermain di rumah saya.

Saya pernah mendengar, sebutan Burung Gereja diberi lantaran dalam catatan sejarahnya biar terkesan sedikit ilmiah saja haha, dikarenakan demi terhindar dari predator burung jenis ini selalu mencari tempat yang tinggi untuk berumah. Dan pada waktu itu karena bangunan yang relatif tinggi umumnya adalah gedung gereja, maka itulah tempat yang secara insting dipilih burung ini sebagai tempat bersarang. Jadilah nama Burung Gereja diberikan.

Sedikit melakukan investigasi widiiihh kaya detektif saja ni orang saya mencari tahu tentang Burung Gereja lebih jauh. Bagaimana cara membuatnya sering datang di rumah, membuat tempat makannya, bahkan sampai bagaimana desain tempat agar burung ini mau membuat sarang di sekitar rumah. Semoga semuanya bisa saya aplikasikan agar Burung Gereja betah datang maen di rumah dan terus menghadirkan nuansa alami -setidaknya bagi saya.