“Jika
kamu ingin tahu saya orangnya seperti apa, nonton saja film Into The Wild,”
pernah saya mengucap kalimat demikian kepada seorang teman.
Saya
yakin kita semua pernah mengalaminya. Saya yakin pernah suatu saat kita sedang
menonton sebuah film dan kemudian menemukan bahwa apa yang ditampilkan tokoh
dalam film adalah sangat mirip dengan diri kita. Ya, tokoh Chris McCandless
dalam Into The Wild membuat saya mengalami hal itu.
Konflik
utama Into The Wild terjadi bukan antar orang per orang
(protagonist-antagonis), tapi konflik Chris McCandless (Emile Hirsch) dengan
kehidupan. Chris menganggap apa yang disuguhkan kehidupan tidak sesuai
pandangan yang terbentuk dalam pikirannya. Pandangannya tentang hidup ideal
sendiri tumbuh dengan dibantu karya-karya Leo Tolstoy, Jack London, Nicolai
Gogol, White Fang dan beberapa penulis lain yang selalu jadi temannya –saya
menganggap Chris adalah orang yang tertutup.
Karena ketidak-puasan atas hidup yang berputar disekitarnya, ditunjang masalah internal keluarga yang niscaya diketahuinya, Chris kemudian bertekad meninggalkan “kehidupan palsu” untuk menjalani “kehidupan sebenarnya” yang baginya hanya ada di alam liar. Jadilah sepanjang film ini kita seperti diajak bersama-sama Chris melangkah menuju alam liar (Into The Wild).
Karena ketidak-puasan atas hidup yang berputar disekitarnya, ditunjang masalah internal keluarga yang niscaya diketahuinya, Chris kemudian bertekad meninggalkan “kehidupan palsu” untuk menjalani “kehidupan sebenarnya” yang baginya hanya ada di alam liar. Jadilah sepanjang film ini kita seperti diajak bersama-sama Chris melangkah menuju alam liar (Into The Wild).
Emile
Hirsch bermain dengan baik sebagai Chris McCandless. Dia berhasil menjadi
seorang anak muda yang energik sekaligus naif disepanjang perjalanannya. Saya
suka saat Chris sepulang mengumpulkan kayu bakar di pantai lalu dengan gesit
melompati batu untuk pergi berbincang bersama Rainey. Kamudian saat di bar, dia
juga berhasil menunjukan ekspresi naïf ketika menjelaskan kepada Wayne
pandangannya akan hidup ideal dan rencana ke Alaska.
Beberapa
artis/aktor terkenal juga turut menghiasi film ini, sebut saja Vince Vaughn
(Wayne), Kristen Stewart (Tracy), William Hurt (Walt McCandless), dll. Semuanya
beradegan dengan baik dan tidak melebihi porsinya yang memang terbatas.
Khususnya Tracy, saya harus memberi sedikit catatan disini: bagi saya Into
The Wild adalah film terbaiknya seorang Kristen Stewart sebelum dirinya
dirusak oleh serial vampir yang bukan vampir –saya lupa judulnya dan tidak mau
tahu :p
Untuk
sutradara sendiri (Sean Penn) harus saya katakan cukup membuat saya terkejut.
Pasalnya, sebelum ini Sean Penn hanya saya kenal dalam film Mystic River (2003)
dimana dia bermain sangat baik dan karenanya saya pikir dia sekadar berbakat
sebagai aktor saja. Ternyata Sean sukses meng-audiovisual-kan Into The Wild
meski harus diakui dia cukup banyak terbantu sebab film ini merupakan adaptasi
dari novel berjudul sama karya Jon Krakauer.
Satu
hal lagi yang patut mendapat pujian adalah soundtrack. Teknik membuka
film dengan suguhan soundtrack mungkin sudah acap dipraktekan, namun
untuk hasil bagus maka harus dengan catatan yakni teknik itu akan berhasil jika
soundtrack dan tampilan pembukaannya serasi –dan hal itu berhasil di
film ini. Diiring alunan musik Eddie Vedder, pada bagian awal saya serta merta
hanyut dalam suguhan gambar beberapa tempat singgahan Chris –khususnya kereta
yang pernah menjadikannya penumpang gelap.
Perjalanan
Chris dalam mencari kehidupan ideal pada akhirnya harus berakhir di Alaska.
Meski menikmatinya, namun ternyata alam tidak selamanya sesuai dengan yang
diimpikan. Kebahagian di alam Alaska yang ramah kemudian berganti menakutkan.
Dimulai dengan salju dan musim dingin yang menusuk, beras dan perbekalan yang
kian habis, hingga bahan makanan dan hewan buruan yang pergi entah kemana,
membuat Chris pun sadar dia butuh pertolongan orang lain dan harus segera
meninggalkan Bis Ajaibnya. Dan sekali lagi alam tidak selamanya ramah. Jalan
satu-satunya yang dulu tertutup salju kini menjadi sungai dan banjir bandang
didalamnya. Dalam kelaparan Chris terpaksa harus kembali lagi ke bis ajaib
dengan sempoyongan karena jatuh dan hampir terseret arus sungai. Dia lalu
berbaring di jok bis ajaib sembari tersenyum sementara sudut pandang kamera semakin
menjauh dari fokus awal di wajahnya kemudian bergerak keatas lewat jendela
depan dan manjauh kian tinggi hingga terlihat keseluruhan bis dan pemandangan
Alaska yang ditutup salju mencair.
Saya
kemudian bisa menemukan makna kehidupan ideal dalam pandangan Chris. Setelah
menjelang akhir film diperlihatkan tulisan pahatan Chris di sebidang kayu atau
papan bertuliskan “Happiness Is Only Real When Shared,” itulah simpulan
Chris tentang kehidupan atau kebahagiaan yang ideal. Setelah sekitar 2 tahun
melalang-buana dan berakhir hidup di alam liar (Alaska), Chris akhirnya
menemukan bahwa kebahagiaan yang nyata bukanlah bergantung pada tempat namun
tentang berbagi. Tidak perlu di alam liar, dimana saja asalkan saling berbagi
maka kebahagiaan itu nyata.
Into
The Wild
menyajikan lifestyle yang sangat dekat dengan kehidupan anak muda.
Pandangan naif, pemberontak, nothing to lose, dan sikap lain yang
kebanyakan ada dalam diri anak muda (bukan alay!). Jika seseorang pernah muda,
maka dapat saya katakan bahwa dia pasti pernah merasakan apa yang Chris rasakan
atau tunjukan. Terlebih khusus untuk mereka yang mengaku diri seorang pecinta
alam, sungguh keterlaluan jika tidak tahu film ini sebab Into The Wild
bisa disebut adalah film wajib seorang pecinta alam.
Setelah
kesekian kalinya menyaksikan Into The Wild, dan jika saja bertemu
kembali dengan teman saya dulu, saya masih akan berkata padanya “Jika kamu
ingin tahu saya orangnya seperti apa, nonton saja film Into The Wild.”
Judul: Into The Wild
// Tahun: 2007 // Durasi: 148 Menit // Tema: Petualangan,
Drama, Biografi // Sutradara: Sean Penn // Pemain: Emile Hirsch,
Vince Vaughn, Catherine Keener, Kristen Stewart // Nilai: 8,1 (IMDB),
73/100 (Metascore)

