Senin, 03 Januari 2011

“Jika kamu ingin tahu saya orangnya seperti apa, nonton saja film Into The Wild,” pernah saya mengucap kalimat demikian kepada seorang teman.

Saya yakin kita semua pernah mengalaminya. Saya yakin pernah suatu saat kita sedang menonton sebuah film dan kemudian menemukan bahwa apa yang ditampilkan tokoh dalam film adalah sangat mirip dengan diri kita. Ya, tokoh Chris McCandless dalam Into The Wild membuat saya mengalami hal itu.

Konflik utama Into The Wild terjadi bukan antar orang per orang (protagonist-antagonis), tapi konflik Chris McCandless (Emile Hirsch) dengan kehidupan. Chris menganggap apa yang disuguhkan kehidupan tidak sesuai pandangan yang terbentuk dalam pikirannya. Pandangannya tentang hidup ideal sendiri tumbuh dengan dibantu karya-karya Leo Tolstoy, Jack London, Nicolai Gogol, White Fang dan beberapa penulis lain yang selalu jadi temannya –saya menganggap Chris adalah orang yang tertutup.

Karena ketidak-puasan atas hidup yang berputar disekitarnya, ditunjang masalah internal keluarga yang niscaya diketahuinya, Chris kemudian bertekad meninggalkan “kehidupan palsu” untuk menjalani “kehidupan sebenarnya” yang baginya hanya ada di alam liar. Jadilah sepanjang film ini kita seperti diajak bersama-sama Chris melangkah menuju alam liar (Into The Wild).

Emile Hirsch bermain dengan baik sebagai Chris McCandless. Dia berhasil menjadi seorang anak muda yang energik sekaligus naif disepanjang perjalanannya. Saya suka saat Chris sepulang mengumpulkan kayu bakar di pantai lalu dengan gesit melompati batu untuk pergi berbincang bersama Rainey. Kamudian saat di bar, dia juga berhasil menunjukan ekspresi naïf ketika menjelaskan kepada Wayne pandangannya akan hidup ideal dan rencana ke Alaska.

Beberapa artis/aktor terkenal juga turut menghiasi film ini, sebut saja Vince Vaughn (Wayne), Kristen Stewart (Tracy), William Hurt (Walt McCandless), dll. Semuanya beradegan dengan baik dan tidak melebihi porsinya yang memang terbatas. Khususnya Tracy, saya harus memberi sedikit catatan disini: bagi saya Into The Wild adalah film terbaiknya seorang Kristen Stewart sebelum dirinya dirusak oleh serial vampir yang bukan vampir –saya lupa judulnya dan tidak mau tahu :p

Untuk sutradara sendiri (Sean Penn) harus saya katakan cukup membuat saya terkejut. Pasalnya, sebelum ini Sean Penn hanya saya kenal dalam film Mystic River (2003) dimana dia bermain sangat baik dan karenanya saya pikir dia sekadar berbakat sebagai aktor saja. Ternyata Sean sukses meng-audiovisual-kan Into The Wild meski harus diakui dia cukup banyak terbantu sebab film ini merupakan adaptasi dari novel berjudul sama karya Jon Krakauer.

Satu hal lagi yang patut mendapat pujian adalah soundtrack. Teknik membuka film dengan suguhan soundtrack mungkin sudah acap dipraktekan, namun untuk hasil bagus maka harus dengan catatan yakni teknik itu akan berhasil jika soundtrack dan tampilan pembukaannya serasi –dan hal itu berhasil di film ini. Diiring alunan musik Eddie Vedder, pada bagian awal saya serta merta hanyut dalam suguhan gambar beberapa tempat singgahan Chris –khususnya kereta yang pernah menjadikannya penumpang gelap.

Perjalanan Chris dalam mencari kehidupan ideal pada akhirnya harus berakhir di Alaska. Meski menikmatinya, namun ternyata alam tidak selamanya sesuai dengan yang diimpikan. Kebahagian di alam Alaska yang ramah kemudian berganti menakutkan. Dimulai dengan salju dan musim dingin yang menusuk, beras dan perbekalan yang kian habis, hingga bahan makanan dan hewan buruan yang pergi entah kemana, membuat Chris pun sadar dia butuh pertolongan orang lain dan harus segera meninggalkan Bis Ajaibnya. Dan sekali lagi alam tidak selamanya ramah. Jalan satu-satunya yang dulu tertutup salju kini menjadi sungai dan banjir bandang didalamnya. Dalam kelaparan Chris terpaksa harus kembali lagi ke bis ajaib dengan sempoyongan karena jatuh dan hampir terseret arus sungai. Dia lalu berbaring di jok bis ajaib sembari tersenyum sementara sudut pandang kamera semakin menjauh dari fokus awal di wajahnya kemudian bergerak keatas lewat jendela depan dan manjauh kian tinggi hingga terlihat keseluruhan bis dan pemandangan Alaska yang ditutup salju mencair.

Saya kemudian bisa menemukan makna kehidupan ideal dalam pandangan Chris. Setelah menjelang akhir film diperlihatkan tulisan pahatan Chris di sebidang kayu atau papan bertuliskan “Happiness Is Only Real When Shared,” itulah simpulan Chris tentang kehidupan atau kebahagiaan yang ideal. Setelah sekitar 2 tahun melalang-buana dan berakhir hidup di alam liar (Alaska), Chris akhirnya menemukan bahwa kebahagiaan yang nyata bukanlah bergantung pada tempat namun tentang berbagi. Tidak perlu di alam liar, dimana saja asalkan saling berbagi maka kebahagiaan itu nyata.

Into The Wild menyajikan lifestyle yang sangat dekat dengan kehidupan anak muda. Pandangan naif, pemberontak, nothing to lose, dan sikap lain yang kebanyakan ada dalam diri anak muda (bukan alay!). Jika seseorang pernah muda, maka dapat saya katakan bahwa dia pasti pernah merasakan apa yang Chris rasakan atau tunjukan. Terlebih khusus untuk mereka yang mengaku diri seorang pecinta alam, sungguh keterlaluan jika tidak tahu film ini sebab Into The Wild bisa disebut adalah film wajib seorang pecinta alam.

Setelah kesekian kalinya menyaksikan Into The Wild, dan jika saja bertemu kembali dengan teman saya dulu, saya masih akan berkata padanya “Jika kamu ingin tahu saya orangnya seperti apa, nonton saja film Into The Wild.”

Judul: Into The Wild // Tahun: 2007 // Durasi: 148 Menit // Tema: Petualangan, Drama, Biografi // Sutradara: Sean Penn // Pemain: Emile Hirsch, Vince Vaughn, Catherine Keener, Kristen Stewart // Nilai: 8,1 (IMDB), 73/100 (Metascore)

0 comments:

Posting Komentar

Terima Kasih Sudah Berkunjung,

Mohon Tinggalkan Komentar Yang Konstruktif // Hanya Komentar Yang Berkualitas & Sesuai Dengan Isi Artikel Diatas Yang Akan Ditampilkan // Mari Saling Membangun

Salam (^^)