Ketika berkunjung ke rumah teman di desa Pitu, tanpa sengaja tercipta
obrolan tentang tempat-tempat elok yang pernah kami kunjungi (gunung,
hutan, taman nasional, pulau, dan lainnya). Ditengah cerita kami, ayah
Nekel lalu bercerita bawa didalam hutan belakang desanya juga terdapat air terjun. Dari situ, saya beserta Nekel dan Semi lalu membuat rencana menuju tempat tersebut.
Nekel dan Semi adalah teman kampus yang sekaligus merupakan masyarakat asli
desa Pitu, Kec. Tobelo Tengah, Kab. Halmahera Utara. Setelah sama-sama bersepakat -juga bersemangat-
pergi mencari air terjun dibelakang desanya, mereka pun bertugas mencari warga
desa yang bisa memandu ke tempat itu. Sayang hingga waktunya mereka
tidak menemukan orang yang tahu lokasi persis air terjun yang hendak kami tuju.
Dari keterangan Nekel atau Semi, kebanyakan anak muda desa mengaku tidak pernah tahu ada air terjun di hutan desanya. Sedangkan mereka yang mengaku pernah berada di air terjun itu adalah orang-orang tua yang tidak bisa lagi menempuh perjalanan jauh. Mendengar itu, saya sempat berpikir rencana menjelajah kami akan batal. Tetapi mungkin karena sudah jenuh dengan aktifitas kampus dan haus akan suasana alam, kami pun memutuskan untuk melakukan penjelajahan itu tanpa pemandu (nekat) :D
Dari keterangan Nekel atau Semi, kebanyakan anak muda desa mengaku tidak pernah tahu ada air terjun di hutan desanya. Sedangkan mereka yang mengaku pernah berada di air terjun itu adalah orang-orang tua yang tidak bisa lagi menempuh perjalanan jauh. Mendengar itu, saya sempat berpikir rencana menjelajah kami akan batal. Tetapi mungkin karena sudah jenuh dengan aktifitas kampus dan haus akan suasana alam, kami pun memutuskan untuk melakukan penjelajahan itu tanpa pemandu (nekat) :D
Tiba hari H nya, kami bertemu di rumah Nekel tepat pukul 10:45 untuk
melakukan pengecekan perlengkapan dan logistik. Saya melihat ada tenda, alat
masak, penerangan, makanan, dan parang. Sekitar 30 menit melakukan pemeriksaan dan
melengkapi peralatan, kami pun mulai perjalanan.
Diawal kami melewati kebun-kebun penduduk desa yang dominan
bertabur tanaman kelapa (Cocos nucifera) dan langsat (Lansium domesticum), serta beberapa pohon pala (Myristica fragrans). Kami sempat
berpapasan dengan pemilik kebun yang sedang memetik buah langsat serta dengan
baik hati mengijinkan kami untuk mencoba buah hasil kebunnya.
Langkah terhenti ketika kami harus mencari cara untuk menuruni punggung
bukit yang cukup terjal dan berdasar aliran sungai. Semi membuka jalur, diikuti
saya dan Nekel. Jalur menurun yang licin mengharuskan kami mencari pegangan
yang cukup kuat agar tidak jatuh. Entah karena kurang sigap atau apa, Nekel
terpeleset dan jatuh tergelincir. Tapi untunglah posisi saat itu telah dekat
dengan dasar bukit sehingga tidak menimbulkan cidera.
![]() |
| Air Terjun di hutan desa Pitu. |
Keadaan sungai sendiri: berdasar kerikil dan batu, diapit tebing dikiri
dan kanan setinggi sekitar 10 meter, dan tinggi air sungai yang hanya sebatas
betis saya. Nampak juga pepohonan yang masih asri memenuhi kiri-kanan
tebing, panorama itu menjadi barometer saya bahwa lokasi ini jarang tersentuh
manusia.
Perjalanan hanya sedikit tersendat karena adanya pohon-pohon tumbang jatuh
ke sungai hingga menghalangi jalur kami. Pembersihan jalur pun harus kami
lakukan untuk memudahkan perjalanan.
Terus melangkah kearah hulu, kami mulai menemukan batu-batu sungai
berukuran besar yang berbeda dengan bebatuan diperjalanan yang sudah kami lewati. Bebatuan besar disungai
umumnya pertanda kian dekat dengan lokasi hulu, tetapi sampai disini pun tidak terdengar
gemuruh air sebagaimana biasa jika mendekati lokasi air terjun.
Meski sudah benar-benar
kelelahan, kami terus maju pantang mundur. Dan benar saja, begitu melewati satu jalur sungai yang menikung, kami pun
akhirnya berhadapan dengan air terjun yang kami cari. Saya segera melirik jam
tangan dan mendapati angka 16:10 ketika kami sampai di air terjun itu.
Karena hari sudah sore, kami segera mendirikan tenda yang berkapasitas 3
orang, membuat api dan memasak makanan untuk perut kosong kami. Lokasi tenda
kami berada didasar lembah dan tepat didepan kolam air terjun. Setelah
mendirikan tenda, kopi menjadi minuman wajib saya setiap berada ditengah alam :)
![]() |
| Mendirikan tenda. |
![]() |
| Semi sedang memasak. |
Meski dengan kolam yang tidak luas dan karena sudah terlanjur sampai disini, untuk memuaskan tubuh,
kami beberapa kali berenang disitu, bahkan kami mencoba mencari jalur menuju puncak air
terjun. Sekitar sejam berkutat mencari rute, kami tidak menemukan jalur yang
memungkinkan kesana. Seluruh jalur membenturkan kami pada permasalahan yang
sama yakni tebing. Akhirnya demi menghindari resiko buruk dan berhubung waktu
yang terbatas, saya menyaraknan agar kembali ke tenda untuk bersiap dan
berpisah dengan air terjun ini.
Selesai melakukan pembenahan seluruh perlengkapan, kami pun meninggalkan
air terjun itu.



0 comments:
Posting Komentar
Terima Kasih Sudah Berkunjung,
Mohon Tinggalkan Komentar Yang Konstruktif // Hanya Komentar Yang Berkualitas & Sesuai Dengan Isi Artikel Diatas Yang Akan Ditampilkan // Mari Saling Membangun
Salam (^^)