Kamis, 10 Februari 2011

Ketika berkunjung ke rumah teman di desa Pitu, tanpa sengaja tercipta obrolan tentang tempat-tempat elok yang pernah kami kunjungi (gunung, hutan, taman nasional, pulau, dan lainnya). Ditengah cerita kami, ayah Nekel lalu bercerita bawa didalam hutan belakang desanya juga terdapat air terjun. Dari situ, saya beserta Nekel dan Semi lalu membuat rencana menuju tempat tersebut.
Nekel dan Semi adalah teman kampus yang sekaligus merupakan masyarakat asli desa Pitu, Kec. Tobelo Tengah, Kab. Halmahera Utara. Setelah sama-sama bersepakat -juga bersemangat- pergi mencari air terjun dibelakang desanya, mereka pun bertugas mencari warga desa yang bisa memandu ke tempat itu. Sayang hingga waktunya mereka tidak menemukan orang yang tahu lokasi persis air terjun yang hendak kami tuju.

Dari keterangan Nekel atau Semi, kebanyakan anak muda desa mengaku tidak pernah tahu ada air terjun di hutan desanya. Sedangkan mereka yang mengaku pernah berada di air terjun itu adalah orang-orang tua yang tidak bisa lagi menempuh perjalanan jauh. Mendengar itu, saya sempat berpikir rencana menjelajah kami akan batal. Tetapi  mungkin karena sudah jenuh dengan aktifitas kampus dan haus akan suasana alam, kami pun memutuskan untuk melakukan penjelajahan itu tanpa pemandu (nekat) :D
Tiba hari H nya, kami bertemu di rumah Nekel tepat pukul 10:45 untuk melakukan pengecekan perlengkapan dan logistik. Saya melihat ada tenda, alat masak, penerangan, makanan, dan parang. Sekitar 30 menit melakukan pemeriksaan dan melengkapi peralatan, kami pun mulai perjalanan.
Diawal kami melewati kebun-kebun penduduk desa yang dominan bertabur tanaman kelapa (Cocos nucifera) dan langsat (Lansium domesticum), serta beberapa pohon pala (Myristica fragrans). Kami sempat berpapasan dengan pemilik kebun yang sedang memetik buah langsat serta dengan baik hati mengijinkan kami untuk mencoba buah hasil kebunnya.
Langkah terhenti ketika kami harus mencari cara untuk menuruni punggung bukit yang cukup terjal dan berdasar aliran sungai. Semi membuka jalur, diikuti saya dan Nekel. Jalur menurun yang licin mengharuskan kami mencari pegangan yang cukup kuat agar tidak jatuh. Entah karena kurang sigap atau apa, Nekel terpeleset dan jatuh tergelincir. Tapi untunglah posisi saat itu telah dekat dengan dasar bukit sehingga tidak menimbulkan cidera.

Air Terjun di hutan desa Pitu.
Susur sungai jadi rute wajib kami selanjutnya. Pilihan menyusur sungai sendiri didasarkan atas asumsi bahwa lokasi air terjun pasti berada di bagian hulu sungai, dan dengan terus menyusur sungai kami otomatis akan sampai di air terjun itu.
Keadaan sungai sendiri: berdasar kerikil dan batu, diapit tebing dikiri dan kanan setinggi sekitar 10 meter, dan tinggi air sungai yang hanya sebatas betis saya. Nampak juga pepohonan yang masih asri memenuhi kiri-kanan tebing, panorama itu menjadi barometer saya bahwa lokasi ini jarang tersentuh manusia.
Perjalanan hanya sedikit tersendat karena adanya pohon-pohon tumbang jatuh ke sungai hingga menghalangi jalur kami. Pembersihan jalur pun harus kami lakukan untuk memudahkan perjalanan.
Terus melangkah kearah hulu, kami mulai menemukan batu-batu sungai berukuran besar yang berbeda dengan bebatuan diperjalanan yang sudah  kami lewati. Bebatuan besar disungai umumnya pertanda kian dekat dengan lokasi hulu, tetapi sampai disini pun tidak terdengar gemuruh air sebagaimana biasa jika mendekati lokasi air terjun.
Meski sudah benar-benar kelelahan, kami terus maju pantang mundur. Dan benar saja, begitu melewati satu jalur sungai yang menikung, kami pun akhirnya berhadapan dengan air terjun yang kami cari. Saya segera melirik jam tangan dan mendapati angka 16:10 ketika kami sampai di air terjun itu.
Karena hari sudah sore, kami segera mendirikan tenda yang berkapasitas 3 orang, membuat api dan memasak makanan untuk perut kosong kami. Lokasi tenda kami berada didasar lembah dan tepat didepan kolam air terjun. Setelah mendirikan tenda, kopi menjadi minuman wajib saya setiap berada ditengah alam :)

Mendirikan tenda.
Berada didasar lembah membuat kegelapan sangat cekatan menguasai keadaan. Meski didepan tenda kami membuat api untuk menghangatkan tubuh dan didalam tenda terdapat penerangan yang cukup -bahkan untuk menyelesaikan bacaan yang saya baca- ketika saya menoleh jauh ke arah jalur sungai yang tadi kami lewati diperjalanan, hanya terdapat kegelapan disana. Sepoi-sepoi air terjun berjatuhan dan sahutan serangga yang menghibur malam kami. Namun semua hal itulah yang selalu saya rindukan!

Semi sedang memasak.
Menikmati sensasi air terjun adalah hal yang kami lakukan esok harinnya. Berdasar pengamatan saya, tinggi air terjun berkisar 10 meter dengan debit air dalam kategori kecil. Dengan debit yang demikian, saya perkirakan bawasanya sungai di puncaknya bukanlah sungai utama atau dengan kata lain hanya merupakan sungai kecil. Kolam tempat jatuhnya air terjun juga tidak dalam dan berdiameter sekitar 10-an meter atau dalam kategori kecil bagi saya. Jadi kesimpulan saya, air terjun ini merupakan air terjun yang keadaannya dipengaruhi cuaca di hulunya. Jika terjadi hujan maka kita akan dapat melihat air terjun dan jika musim kemarau air terjun ini dapat mengering. Bahkan, melihat keadaannya, ini tidak cocok disebut air terjun.
Meski dengan kolam yang tidak luas dan karena sudah terlanjur sampai disini, untuk memuaskan tubuh, kami beberapa kali berenang disitu, bahkan kami mencoba mencari jalur menuju puncak air terjun. Sekitar sejam berkutat mencari rute, kami tidak menemukan jalur yang memungkinkan kesana. Seluruh jalur membenturkan kami pada permasalahan yang sama yakni tebing. Akhirnya demi menghindari resiko buruk dan berhubung waktu yang terbatas, saya menyaraknan agar kembali ke tenda untuk bersiap dan berpisah dengan air terjun ini.
Selesai melakukan pembenahan seluruh perlengkapan, kami pun meninggalkan air terjun itu.

0 comments:

Posting Komentar

Terima Kasih Sudah Berkunjung,

Mohon Tinggalkan Komentar Yang Konstruktif // Hanya Komentar Yang Berkualitas & Sesuai Dengan Isi Artikel Diatas Yang Akan Ditampilkan // Mari Saling Membangun

Salam (^^)