Kamis, 25 Februari 2016

Sebagai catatan, tulisan ini ditulis pasca kali kedua saya bertamu ke Kabupaten Pulau Morotai. Pertama kali saya ke Morotai bersama teman kampus saya -John, dan pada kali keduanya saya kembali berkunjung ke Morotai bersama Nana, Eni, dan juga beserta John.

Kesempatan pertama ke Morotai datang ketika John mengajak ikut serta pulang ke kampung halamannya Morotai. Dan karena saya belum pernah sampai ke tempat-tempat keren di pulau yang terkenal dengan istilah ‘Bibir Pasifik’ itu, saya pun menyambut gembira ajakannya. Sedangkan alasan mengapa saya harus kembali mengunjungi Morotai untuk kedua kalinya, yaitu selain sebab keindahan alamnya yang bikin ketagihan hehe, ini juga sebagai pemenuhan janji kepada Nana yang saat itu hendak meninggalkan dataran Halmahera.

Olehnya, keseluruhan cerita dan dokumentasi dalam tulisan kali ini bersumber dari dua waktu yang berbeda tersebut.

*****

Menuju Morotai via Kapal Feri

Morotai Halmahera
Anggota Trip Morotai (foto ini adalah kunjungan kedua saya)
Dari Tobelo, Kabupaten Pulau Morotai biasanya dicapai menggunakan moda transportasi laut yakni Kapal Feri. Dengan starting poin Pelabuhan Feri di Desa Gorua, Tobelo Utara, Kabupaten Halmahera Utara, kaki sudah bisa menapak tanah dataran Morotai setelah sebelumnya harus menikmati 4 jam perjalanan menyeberangi lautan yang berair asin yaiyalah prett.

Meski sudah sedikit lebih baik dibanding dulu, namun secara keseluruhan, fasilitas diatas kapal feri penyebrangan Tobelo-Morotai (saat itu KMP. Ngafi) dapat dikata kurang memadai jika dibandingkan tampilan kapal feri pada kota besar yang sering terlihat di televisi –apalagi jika pembadingnya negara maju (JAUH). Dalam dua kali kesempatan mengunjungi Morotai, kami selalu tidak kebagian tempat duduk sebagaimana hak penumpang seharusnya. Untuk itu, kami memilih pergi ke dek kapal paling atas mencari “tempat yang nyaman” selama diperjalanan. Setelah melalangbuana sana-sini, tempat yang kami dapat hanya berupa sedikit ruang kosong tak beratap dan hanya ternaungi sombar dari bagian dinding kabin yang jika hari menjelang terik dan matahari berubah posisi, bagian sombar itu akan semakin menyempit dan kami harus mencari tempat lain lagi.

Menurut kebanyakan cerita yang saya dengar, kapal feri yang ditugas melayani rute Tobelo-Morotai (atau mungkin untuk pelayaran di seluruh daerah terpinggirkan/tidak maju) biasanya adalah “kapal sisa” dari daerah lebih maju. Ketika kapal feri di daerah-daerah maju sudah tua dan mendapat peremajaan dengan hadirnya kapal baru, maka kapal yang sudah tua tadi di oper ke daerah-daerah lain yang notabene wilayah baru berkembang –seperti daerah saya ini. Padahal sebelumnya, pada saat Sail Indonesia Morotai 2012 diselenggarakan, banyak sekali kapal feri yang bagus-bagus datang melayani penyeberangan ke Morotai. Sayangnya, begitu event selesai maka selesai juga kenampakan kapal-kapal bagus itu. Kata orang, kapal-kapal bagus yang datang waktu itu hanya untuk menyenangkan Pak Presiden dan tamu-tamu lain yang juga hadir saat acara. Pantas!

Morotai Halmahera

Morotai Halmahera


Sampai Di Morotai

Sekitar jam 1 siang kapal sandar di Pelabuhan Feri Morotai. Pada saat pertama kali datang, begitu turun dari kapal kami segera mencari transportasi bentor untuk menuju rumah John. Dari pelabuhan penyeberangan, sepanjang jalan sunyi. Hampir tidak ada aktifitas yang dapat saya lihat disepanjang jalanan aspal. Jarak antar kampung pun terkesan saling berjauhan. Sesekali kami berpapasan dengan kendaraan sepedamotor lain yang melintas dan tidak menggunakan kelengkapan sebagaimana wajib untuk mengendarai motor, missal: helm, spion, dll. “disini bebas Ko. Polantas tarada jadi biar tara pake helem me tara apa,” John menjelaskan diselingi tawa. Pemandangan serupa juga terasa saat saya bersama teman-teman datang untuk kedua kali ke Morotai: pemandangan sepanjang jalan masih sunyi, pengendara motor bebas berkendara tanpa kelengkapannya, dll., dsb.

Rumah John selalu jadi homestay setiap berkunjung ke Morotai.

Bagian belakang tempat tinggal John berbatas persis dengan bibir pantai yang sudah dibangun talud demi mencegah pengikisan daratan oleh ombak (abrasi). Saking dekatnya dengan laut, saya kemudian jadi akrab dengan suara hempasan ombak dan aroma khas lautan. Jadinya, selama menginap disana saya merasa selalu dihibur sepoi gemuruh ombak yang tidak pernah bosan menghempas talud di belakang rumah.

Kami lantas berkeliling sekejap melihat pemandangan kota Kabupaten Bibir Pasifik ini. Tujuan pertama yaitu mengunjungi taman kota Pulau Morotai. Taman yang berada persis di jantung kota ini tampak tidak pernah sepi aktifitas. Posisinya sangat strategis di jantung kota, yang langsung menyuguhkan pemandangan lautan menganga di bagian arah timur taman. Di sekitar tepi laut itu saya melihat sudah mulai banyak aktifitas berdagang. Di taman kota kami sempat nongkrong sambil makan-minum gorengan dan air guraka yang dijajakan pedagang. Kedepannya saya yakin di sudut kota ini akan jadi pusat keramaian (metropolit).

Morotai Halmahera

Morotai Halmahera



Melancong Ke Dodola

Morotai Halmahera
Dodola: jika pasang akan berpisah, ketika surut menjadi satu pulau.
“Beso sekitar jam 9 baru tong pi Dodola ne,” John berkata saat sedang di meja makan. “Jadi so bole basiap barang-barang sudah,” lanjutnya.

Esok hari sekitar jam 8 kami sudah bersiap. Diawali mengalas perut di pagi hari dengan the hangat dan beberapa macam kue, perjalanan menuju Dodola dimulai. Dengan perahu ketinting warna biru kami mulai membelah laut pagi itu.

Untuk sampai ke pulau Dodola, kami harus menyusur laut selama sekitar 1 jam menggunakan perahu ketinting bermesin 13 PK. Untunglah kami mulai melakukan perjalanan ini di pagi hari sehingga keadaan laut masih tenang dan juga sengat matahari masih adem. Tak terbayang jika perjalanan laut ini dilakukan siang bolong, sekujur tubuh pasti melepuh akibat panas mentari, sebab saya sudah mendengar banyak cerita bahwa terik matahari di daratan Morotai jauh teramat panas dinbanding daerah-daerah lain di pulau Halmahera.

Morotai Halmahera

Morotai Halmahera

Morotai Halmahera

Kian dekat Pulau Dodola, saya bisa melihat disana seperti ada dua pulau: yang satu sedikit lebih besar dari yang lainnya, yang keduanya dihubungkan oleh garis pantai pasir putih. Jika air laut sedang surut, kita bisa berjalan dari daratan pulau yang satu ke pulau yang lainnya, namun jika air tengah pasang, pasir putih yang menghubungkan keduanya akan menghilang. Sebenarnya keduanya itu adalah satu pulau yang diberi nama Dodola, hanya untuk membedakan keduanya, yang lebih besar di sebut Dodola Besar, sedangkan yang satunya disebut Dodola Kecil.

Semacam tiket masuk Dodola.
Begitu perahu ketinting masuk area pantai Pulau Dodola, saking bersih dan jernihnya, mata saya bahkan bisa melihat dasar laut pulau yang penuh terumbu karang cantik dan berbagai ikan warna-warni disana-sini. Lautnya begitu jernih bewarna perpaduan biru dan hijau. Pasir pantai Pulau Dodola juga sangat halus, bahkan dapat dikata ini adalah pasir pantai terhalus yang pernah kaki saya jumpai begitu menginjakan kaki di atasnya.

Di Dodola Besar, terlihat telah dibangun beberapa fasilitas yang diperuntukan bagi pengunjung –mungkin fasilitas ini warisan dari kegiatan Sail Morotai 2012 lalu. Sudah ada semacam trotoar untuk pengunjung berjalan sana-sini, ada tempat mandi atau membilas diri, beberapa MCK, ada juga payung-payung tempat duduk bersantai, bahkan dibangun juga beberapa unit bungalow diperuntukan bagi mereka yang ingin menginap di Pulau.

Di salah satu bagian Dodola Besar ada dermaga untuk kapal-kapal ukuran sedang yang datang –mungkin diperuntukan bagi kapal milik pemda atau pengusaha- sebab jelas ini tidak cocok bagi transportasi sekelas ketinting atau speed boat mengingat ukuran keduanya relatif kecil sehingga mereka lebih suka langsung sandar di atas pasir pantai. Dari atas dermaga ini saya bisa melihat sedikit tampilan Pulau Dodola dari posisi agak tinggi. Dari sini bisa dinikmati sedikit view bagaimana Dodola Kecil menyambung ke Dodola Besar.

Morotai Halmahera

Morotai Halmahera

Morotai Halmahera

Morotai Halmahera

Morotai Halmahera

Morotai Halmahera

Secara keseluruhan, saya menikmati perjalanan ke Pulau Dodola: dari pemandangannya yang indah, lautnya yang bersih nan bening, bahkan untuk perjalanan lautnya yang seru. Satu hal yang bagi saya cukup mengganggu saat mengunjungi Dodola adalah suhu panas yang minta ampun. Karena sudah merasakannya, saya harus mengiyakan ungkapan bahwa di Morotai itu mataharinya lebih dari satu. Tapi sekali lagi, hal itu tidak mengurangi rasa kagum saya akan Pulau Dodola dan Morotai pada umumnya.

Setelah puas menjelajah –meskipun belum sepenuhnya terjelajah- kami pun memutuskan kembali pulang. Perahu ketinting berbalik arah, mesin 13 PK kembali di nyalakan, dan suguhan pemandangan 1 jam perjalanan laut pun harus kembali lagi kami nikmati.

Satu yang jadi tekad saya jika kembali lagi ke Morotai adalah saya harus kemping semalam di Pulau Dodola –semoga (^^)


Air Kaca

Morotai Halmahera
Dengan sepeda motor kami berkeliling sudut-sudut eksotis daratan Morotai. Hari itu sepeda motor terus menjajal jalanan aspal Morotai hingga berhenti di tempat yang disebut Air Kaca.

Air Kaca adalah suatu tempat seumpama gua maaf jika analoginya salah yang memiliki mata air tawar yang jernih. Konon dalam sejarahnya, Air Kaca adalah tempat mandi jenderal tentara sekutu sewaktu Perang Dunia II. Oleh sebab punya latar belakang sejarah, tempat ini dijaga oleh masyarakat sebagai tujuan wisata.

Begitu masuk di lokasi Air Kaca, saya langsung menemui ada banyak poster-poster sengaja dipajang yang menceritakan sejarah Perang Dunia II dan cerita Air Kaca itu sendiri. Disamping poster-poster itu, ada juga catatan-catatan mengenai Air Kaca yang ditampilkan di plang bewarna hijau berisi deskripsi spot wisata tersebut. Untuk sampai ke airnya sendiri, saya harus menuruni beberapa anak tangga sebelum bisa menyentuh air dibawahnya. Setelah berkeliling menikmati panorama dan mengambil beberapa foto, kami bergegas melanjutkan perjalanan.

Monumen Trikora

Tujuan berikutnya Monumen Trikora. Disepanjang perjalanan saya beberapa kali meminta John untuk berhenti sebentar sekadar mengambil foto setiap tempat yang dilewati yang bagi saya unik atau berbau sejarah perang. Seperti misalnya: saya mengambil gambar di gapura besar bertuliskan ‘Selamat Datang Di Kab. Pulau Morotai’, berfoto di pertigaan jalan bandara yang mana terdapat semacam tugu dengan baling-baling, dan saya sempat mengambil gambar di suatu tempat yang bagi saya unik tapi tidak saya ketahui namanya hehe

Beberapa menit berkendara, sepeda motor berhenti di depan area Monumen Trikora. Dilihat dari prasasti peresmiannya, bisa dipastikan monumen ini diresmikan pada saat helatan Sail Morotai 2012 dilangsungkan. Dari depan monumen, bisa terlihat ada beberapa kincir angin yang berputar dan memberi pemandangan yang keren bagi saya. Sementara itu, disamping kiri-kanan Monumen Trikora berdiri dua buah bangunan kaca beratap warna merah yang sayangnya saat itu kosong isinya –saya tidak sempat bertanya untuk apa kedua bangunan itu dibangun. Di Monumen Trikora sendiri, pada bagian atanya dibuat patung-patung para pejuang yang dengan gagah memegang bendera Indonesia. Sementara di empat bagian dindingnya diisi dengan catatan-catatan penting sejarah bangsa.

Setelah Sail Morotai selesai, Monumen Trikora kini menjadi salah satu icon kota dan tempat bersantai atau wisata masyarakat (khususnya anak muda). Lokasi monumen yang dibuat seumpama taman bagi saya sangat baik menjadi tempat kegiatan-kegiatan outdoor kedepannya.

*****

Saya menghabiskan waktu 3 hari 2 malam menikmati panorama menakjubkan Pulau Morotai, meski saya sadar belum semua spot saya datangi. Walaupun begitu, dari dua kunjungan singkat saya itu, Morotai selalu menjadi magnet yang ampuh untuk terus menarik saya supaya kembali lagi kesana.

Belakangan saya dengar ada beberapa spot air terjun keren yang wajib dikunjungi jika bertandang ke Morotai, selain itu, juga ada objek pantai Tanjung Gorango yang belakangan terkenal, dan sebagainya. Mendengar hal-hal semacam itu membuat saya jadi bersemangat untuk kembali ke Morotai lagi.