Jumat, 04 November 2016

Segala rupa film yang mengangkat latar belakang jurnalisme investigasi tidak akan bisa lepas dari bayang-bayang All The President’s Men (1976). Meskipun berusaha memasukan bermacam teknik jurnalisme baru -misalnya media masa online dalam State Of Play (2009)- tetap saja berbagai usaha tersebut tidak terlalu signifikan membuat penonton untuk tidak mengingat All The President’s Men.

Spotlight adalah nama satu tim dalam sebuah koran lokal Boston yang bertugas melakukan jurnalisme investigasi terhadap suatu isu atau kasus dan kemudian pada akhirnya menerbitkannya dalam koran. Saya selalu menyukai film dengan tema investigasi -entah berlatar jurnalisme, detektif, psikologi, dsb- yang bagi sebagian orang membosankan karena membuat otaknya pusing tujuh keliling. Untuk yang berlatar jurnalisme saya sudah menyaksikan All The President’s Men (1976), State of Play (2009), serta Kill The Messenger (2014). Dan meski dibanyak tempat terkesan menampilkan teknik jurnalis yang sama memang karena itulah kebiasaan jurnalis umumnya, alur cerita dari masing-masing film terbilang enak dan cerdas tentu saja.

Marty Baron (Liev Schreiber) adalah editor baru harian The Boston Globe. Tidak mau semakin terpuruk dengan kenyataan kian menurunnya jumlah pembaca koran, dia bertekad untuk meningkatkan kualitas dari surat kabar harian The Boston Globe. Tidak main-main, dari sekian banyak tema berita yang dipaparkan, Marty tertarik terhadap kasus pelecehan yang dilakukan seorang pastor. Dan meski diawali dengan sedikit perdebatan internal pimpinan, Spotlight harus mengemban tanggung jawab mendalami kasus tersebut hingga layak diterbitkan. Investigasi -atau kerja- yang dilakukan Spotlight inilah yang menjadi cerita film berdurasi 128 menit ini.

Robby (Michael Keaton) menyampaikan permintaan editor baru kepada rekan kerjanya di Spotlight, dan penelusuran kasus yang awalnya terlihat kecil ini dimulai. Matt (Brian d’Arcy James), Mike (Mark Ruffalo) dan Sacha (Rachel McAdams) membagi tugas masing-masing, dan dengan gaya klasik jurnalis mereka mulai mengumpulkan pecahan-pecahan data soal pastor dan gereja yang berserakan disekitar Boston kemudian perlahan membangunnya menjadi satu keseluruhan cerita yang utuh. Seiring berjalannya investigasi Spotlight, mereka menyadari bahwa penyelidikan mereka menggiring kepada kepada fakta yang amat sangat besar dan berdampak terhadap keseluruhan kehidupan kota Boston. Awalnya hanya 1 pastor, kemudian menjadi 13, dan pada akhirnya dengan menyeleksi keseluruhan pastor yang sering dipindahkan dengan alasan “sakit”, mengarahkan mereka menemukan fakta ada 90 pastor yang diduga telah melakukan pencabulan terhadap anak dan oh my god ini diketahui dan didiamkan atau disembunyikan oleh gereja.

Bagi saya, Spotlight memperlihatkan bagaimana gaya jurnalis bekerja itu sangat keren -lebay. Bepergian kemana saja dengan pena dan kertas yang selalu terlihat bersama mereka membuat saya tidak pernah mau mengalihkan mata saya dari film ini. Meski terkesan klise -seperti sudah saya sebut diawal- tapi semua teknik jurnalis yang ditampilkan seperti tidak pernah mati untuk bisa membuat penonton bosan. Trik klasik seperti sedikit ancaman khas jurnalis terhadap narasumber penting semisal dalam sin Robby mengancam Macleish dengan kalimat: “…ada dua artikel yang akan terbit dan bla bla bla…,” yang juga bisa kita temukan di film lainnya bertema jurnalistik, itu meski seumpama “lagu lama” tidak membuat penonton lantas pergi, namun malah membuat saya lebih membelalakan mata saya agar tidak kehilangan cerita.

Setiap tokoh dalam tim Spotlight sendiri juga memberi saya gambaran bagaimana watak para jurnalis. Sacha yang sabar mengetok dari pintu ke pintu rumah para korban demi mendapat data, seperti ingin menyampaikan kepada penonton bagaimana tidak mudahnya suatu artikel sampai bisa dimuat di koran. Memang saya akui sulit untuk tidak mengingat State Of Play (2009) setiap melihat Sacha disini -sebab Rachel juga menjadi wartawan disana. Mike yang emosional juga menjadi semacam wakil dari para jurnalis muda yang ingin sedikit tidak sabaran dan maunya serba cepat dalam mem-publish artikel demi mendapat nama atau ketenaran. Sementara Matt yang adalah seorang suami dan ayah yang baik menjadi wakil mereka jurnalis yang ingin bekerja secara aman saja. Sementara itu Robby berjiwa pemimpin yang bijak dalam bertindak dan mengambil keputusan.

Tom McCarty (sutradara) sadar bahwa kekuatan film ini ada pada cerita yang kuat. Sedari awal, dengan detil Tom memaparkan cerita yang mungkin secara garis besar sederhana tanpa overlap kepada tokoh tertentu. Pembagian porsi untuk tiap tokohnya sangat baik ditampilkan. Bumbu karakter individu dan masalah pribadi pun dibatasi agar tidak mengganggu inti cerita. Keketatan Tom menjaga kekuatan cerita inilah yang akhirnya mengganjar Spotlight sebagai jawara dalam ajang Oscar 2016 dengan predikat best picture.

Ditengah tekanan akan pengaruh kuat gereja dalam masyarakat Boston membuat Robby dkk harus sangat hati-hati dalam meramu kalimat untuk menyajikan hasil kerja mereka dalam lembaran koran. Fakta demi fakta yang dikumpulkan makin memberi kesimpulan bahwa gereja secara kelembagaan mengetahui berbagai tindakan cabul yang dilakukan para pastor dan sangaja mendiamkannya. Memang tidak secara lugas diceritakan sebabnya, namun sepintas dalam diskusi tim Spotlight ada kalimat yang menyebutkan bahwa sejak 1985 undang-undang memberi predikat bahwa perbuatan cabul adalah kejahatan berat. Oleh karenanya gereja mendiamkannya dengan mengarahkan para korban agar setuju melakukan “penyelesaian secara kekeluargaan”.

Kehadiran Spotlight membuat para penggemar “film pintar” seperti saya jadi punya satu tontonan wajib yang tidak bisa dilewatkan semasa hidup. Saya mengapresiasi Spotlight mendapat predikat film terbaik di Oscar -entah berapa lama lagi harus menunggu film dengan tema jurnalisme cerdas kembali hadir. Kita butuh film semacam ini. “Kita butuh Spotlight” -mengutip Mike.

Judul : Spotlight | Sutradara : Tom McCarthy | Durasi : 128 menit | Tema : Biografi, Drama Tayang Perdana : 27 Febuari 2016 (Indonesia) | Pemeran : Mark Ruffalo, Michael Keaton, Rachel McAdams | Penilaian : 8,1/10 (IMDB)