Segala rupa film yang mengangkat latar
belakang jurnalisme investigasi tidak akan bisa lepas dari bayang-bayang All
The President’s Men (1976). Meskipun berusaha memasukan bermacam teknik
jurnalisme baru -misalnya media masa online dalam State Of Play (2009)- tetap
saja berbagai usaha tersebut tidak terlalu signifikan membuat penonton untuk
tidak mengingat All The President’s Men.
Spotlight adalah nama satu tim
dalam sebuah koran lokal Boston yang bertugas melakukan jurnalisme investigasi
terhadap suatu isu atau kasus dan kemudian pada akhirnya menerbitkannya dalam
koran. Saya selalu menyukai film dengan tema investigasi -entah berlatar
jurnalisme, detektif, psikologi, dsb- yang bagi sebagian orang membosankan
karena membuat otaknya pusing tujuh keliling. Untuk yang berlatar jurnalisme
saya sudah menyaksikan All The President’s Men (1976), State of Play (2009),
serta Kill The Messenger (2014). Dan meski dibanyak tempat terkesan menampilkan
teknik jurnalis yang sama memang karena itulah
kebiasaan jurnalis umumnya, alur cerita dari masing-masing
film terbilang enak dan cerdas tentu saja.

Marty Baron (Liev Schreiber) adalah
editor baru harian The Boston Globe. Tidak mau semakin terpuruk dengan
kenyataan kian menurunnya jumlah pembaca koran, dia bertekad untuk meningkatkan
kualitas dari surat kabar harian The Boston Globe. Tidak main-main, dari sekian
banyak tema berita yang dipaparkan, Marty tertarik terhadap kasus pelecehan
yang dilakukan seorang pastor. Dan meski diawali dengan sedikit perdebatan
internal pimpinan, Spotlight harus mengemban tanggung jawab mendalami
kasus tersebut hingga layak diterbitkan. Investigasi -atau kerja- yang
dilakukan Spotlight inilah yang menjadi cerita film berdurasi 128 menit
ini.
Robby (Michael Keaton) menyampaikan
permintaan editor baru kepada rekan kerjanya di Spotlight, dan
penelusuran kasus yang awalnya terlihat kecil ini dimulai. Matt (Brian d’Arcy
James), Mike (Mark Ruffalo) dan Sacha (Rachel McAdams) membagi tugas
masing-masing, dan dengan gaya klasik jurnalis mereka mulai mengumpulkan
pecahan-pecahan data soal pastor dan gereja yang berserakan disekitar Boston
kemudian perlahan membangunnya menjadi satu keseluruhan cerita yang utuh.
Seiring berjalannya investigasi Spotlight, mereka menyadari bahwa
penyelidikan mereka menggiring kepada kepada fakta yang amat sangat besar dan
berdampak terhadap keseluruhan kehidupan kota Boston. Awalnya hanya 1 pastor,
kemudian menjadi 13, dan pada akhirnya dengan menyeleksi keseluruhan pastor yang
sering dipindahkan dengan alasan “sakit”, mengarahkan mereka menemukan fakta
ada 90 pastor yang diduga telah melakukan pencabulan terhadap anak dan oh my god ini diketahui dan didiamkan atau
disembunyikan oleh gereja.
Bagi saya, Spotlight memperlihatkan
bagaimana gaya jurnalis bekerja itu sangat keren -lebay. Bepergian kemana saja
dengan pena dan kertas yang selalu terlihat bersama mereka membuat saya tidak
pernah mau mengalihkan mata saya dari film ini. Meski terkesan klise -seperti
sudah saya sebut diawal- tapi semua teknik jurnalis yang ditampilkan seperti
tidak pernah mati untuk bisa membuat penonton bosan. Trik klasik seperti
sedikit ancaman khas jurnalis terhadap narasumber penting semisal dalam sin
Robby mengancam Macleish dengan kalimat: “…ada dua artikel yang akan terbit dan
bla bla bla…,” yang juga bisa kita temukan di film lainnya bertema
jurnalistik, itu meski seumpama “lagu lama” tidak membuat penonton lantas
pergi, namun malah membuat saya lebih membelalakan mata saya agar tidak
kehilangan cerita.
Setiap tokoh dalam tim Spotlight sendiri
juga memberi saya gambaran bagaimana watak para jurnalis. Sacha yang sabar
mengetok dari pintu ke pintu rumah para korban demi mendapat data, seperti
ingin menyampaikan kepada penonton bagaimana tidak mudahnya suatu artikel
sampai bisa dimuat di koran. Memang saya akui sulit untuk tidak mengingat State
Of Play (2009) setiap melihat Sacha disini -sebab Rachel juga menjadi wartawan
disana. Mike yang emosional juga menjadi semacam wakil dari para jurnalis muda yang
ingin sedikit tidak sabaran dan maunya serba cepat dalam mem-publish artikel demi
mendapat nama atau ketenaran. Sementara Matt yang adalah seorang suami dan ayah
yang baik menjadi wakil mereka jurnalis yang ingin bekerja secara aman saja.
Sementara itu Robby berjiwa pemimpin yang bijak dalam bertindak dan mengambil
keputusan.
Tom McCarty (sutradara) sadar bahwa
kekuatan film ini ada pada cerita yang kuat. Sedari awal, dengan detil Tom
memaparkan cerita yang mungkin secara garis besar sederhana tanpa overlap
kepada tokoh tertentu. Pembagian porsi untuk tiap tokohnya sangat baik
ditampilkan. Bumbu karakter individu dan masalah pribadi pun dibatasi agar
tidak mengganggu inti cerita. Keketatan Tom menjaga kekuatan cerita inilah yang
akhirnya mengganjar Spotlight sebagai jawara dalam ajang Oscar 2016
dengan predikat best picture.
Ditengah tekanan akan pengaruh kuat
gereja dalam masyarakat Boston membuat Robby dkk harus sangat hati-hati
dalam meramu kalimat untuk menyajikan hasil kerja mereka dalam lembaran koran.
Fakta demi fakta yang dikumpulkan makin memberi kesimpulan bahwa gereja secara
kelembagaan mengetahui berbagai tindakan cabul yang dilakukan para pastor dan
sangaja mendiamkannya. Memang tidak secara lugas diceritakan sebabnya, namun
sepintas dalam diskusi tim Spotlight ada kalimat yang menyebutkan bahwa
sejak 1985 undang-undang memberi predikat bahwa perbuatan cabul adalah
kejahatan berat. Oleh karenanya gereja mendiamkannya dengan mengarahkan para
korban agar setuju melakukan “penyelesaian secara kekeluargaan”.
Kehadiran Spotlight membuat para
penggemar “film pintar” seperti saya jadi punya satu tontonan wajib yang tidak
bisa dilewatkan semasa hidup. Saya mengapresiasi Spotlight mendapat
predikat film terbaik di Oscar -entah berapa lama lagi harus menunggu film
dengan tema jurnalisme cerdas kembali hadir. Kita butuh film semacam ini. “Kita
butuh Spotlight” -mengutip Mike.
Judul : Spotlight | Sutradara
: Tom McCarthy | Durasi : 128 menit | Tema : Biografi,
Drama Tayang Perdana : 27 Febuari 2016 (Indonesia) | Pemeran
: Mark Ruffalo, Michael Keaton, Rachel McAdams | Penilaian : 8,1/10
(IMDB)

