Kamis, 14 September 2017

Sejak diselenggarakannya semacam festival wisata daerah dengan tajuk ‘Wonderful Talaga Paca’ pada 11 Desember 2016, saya jadi tertarik untuk datang lagi ke Talaga Paca setelah 4 tahun berlalu. Panorama Talaga Paca di baliho kampanye kegiatan yang menghiasi titik-titik penting kota Tobelo merupakan faktor utama yang menarik hati saya ciyeee  kaya jatuh cinta aja hahaha

Dengan sepedamotor matic 125 cc, Talaga Paca yang secara administratif termasuk teritori Kecamatan Tobelo Selatan dapat saya capai dengan butuh waktu 30 menit dari Tobelo (Ibukota Kabupaten Halmahera Utara).


Talaga Paca sendiri merupakan danau yang saya yakin lahir dari suatu proses vulkanik ataupun tektonik sebagaimana umumnya suatu danau lahir ke dunia haha. Meski tidak seluas Danau Galela, Talaga Paca bagi saya cukup punya potensi jadi objek wisata/rekreasi/tempatsantai yang menjanjikan jika dikembangkan dengan baik dan benar.


Baru-baru ini ketika saya datang lagi, Talaga Paca nampak sedang merias dirinya. Di tempat yang beberapa waktu lalu digelar Wonderful Talaga Paca terlihat tengah dibangun ataupun direhabilitasi beberapa infrastruktur demi mempercantik wajah Talaga Paca biar kian berkesan indah kepada setiap jiwa yang datang. Saya melihat sudah ada sekitar 6 tempat duduk santai dari beton-keramik yang cocok digunakan untuk bercengkrama atau diskusi sembari bisa dengan lepas menikmati pemandangan danau. Dari tempat duduk itu, seperti terhipnotis saya selalu suka memandang Gunung Karianga dikejauhan yang seumpama malu-malu menyembunyikan keperkasaannya dibalik ketenangan air danau. Waktu itu ada juga semacam jembatan kayu yang meski kian rapuh namun tetap sibuk membopong siapa saja untuk berfoto diatasnya. Sementara mungkin karena telah menjelang senja, ada anak-anak warga masyarakat tengah asyiknya mandi dan bermain air ditepian danau.


Menurut saya, satu hal yang mungkin perlu dihadirkan Talaga Paca adalah tempat makan dengan penampilan lebih baik atau menarik. Saya mendengar bahwa dulu pernah ada rumah makan dengan hidangan utama ikan mujair disini. Namun saat ini meskipun masih ada yang berjualan seperti itu, nampaknya sangat perlu dilakukan pembaharuan konsep rumah makan dsb. agar bisa lebih menarik pengunjung yang dewasa ini suka menyebut diri sebagai orang kekinian huweeek agar datang selalu. Bisa juga dengan penambahan ornamen-ornamen masa kini yang biasanya ada di tv akan bisa menggenjot antusiasme orang supaya datang ke Talaga Paca –misalnya: banana boat, perahu bebek romantis, rumah pohon tempat foto, dsb. Tapi saya berharap masyarakat Talaga Paca akan tetap selektif jika hendak mengadopsi hal-hal tersebut.


Meskipun tidak terlalu seperti yang saya harapkan –mungkin karena harapannya juga terlalu muluk hehe- tetapi paling tidak dengan pernah ada ‘Wonderful Talaga Paca’ beberapa waktu lalu, saat ini orang-orang (khususnya masyarakat Halut) sudah lebih familiar ketika mendengar nama Talaga Paca. Nanti ketika saya datang lagi ke Talaga Paca, saya berharap bisa makan di rumah makan unik, naik banana boat, berfoto di rumah pohon, dan ngopi romantis di sebuah kedai unik. Semoga saja harapan itu tidak terlalu muluk lagi kedepannya hahaha.

Yang jelas bagi saya sedari alaminya Talaga Paca sudah mempesona.

Senin, 11 September 2017

Menggunakan perahu ketintingPulau Meti dapat dicapai dengan waktu tempuh selama 10 menit dari dermaga Desa Mawea.

Dikalangan masyarakat Halmahera Utara (Halut), khususnya anak muda Tobelo, Pulau Meti yang secara administratif masuk wilayah Kecamatan Tobelo Timur ini mulai ramai diperbincangkan sebagai tempat tujuan rekreasi sejak sekitar pertengahan tahun 2017. Tak dapat disangkal, mewabahnya media sosial jadi salah satu faktor penunjang tempat ini mengorbit dengan cepat.

Secara garis besar jika mengambil patokan Kota Tobelo (Ibukota Kab. Halut), Pulau Meti dapat dicapai dengan: (1) terlebih dahulu menempuh perjalanan darat selama sekitar 20 menit menggunakan sepedamotor (atau mobil) hingga sampai di dermaga Desa Mawea, dan kemudian (2) lanjut menggunakan perahu ketinting menyebrang dari dermaga ke Pulau Meti –tarif menyebrang ini biasanya Rp. 10.000/Org sekali jalan.


Apa sih yang ada di pulau ini hingga saya harus datang? Oke, jika mendapat pertanyaan seperti ini, saya akan jujur menjawabnya. Namun sebelumnya harus saya tekankan bahwa tentu saja apa yang saya ceritakan disini bersifat subjektif –meskipun selalu berupaya objektif hehe.

Seperti sudah saya katakan, didukung peran sosial media, Pulau Meti sebagai tujuan rekreasi mengorbit cukup cepat dikalangan –khususnya- anak muda Tobelo. Dan hal itu juga jadi alasan mengapa saya datang lagi setelah 3 tahun berlalu.


Begitu perahu ketinting kian dekat daratan Pulau Meti, saya masih setia disambut jembatan kayu mungil yang tetap saja ampuh menghadirkan nuansa ketenangan di hati saya –sebagaimana dulu. Tepat di ujung pangkal jembatan kayu itu, masih juga berdiri dengan renta nan eksotik satu rumah kayu kecil yang kini sedikit dipercantik bilah bambu dibeberapa bagian dindingnya. Saya sangat mengingat rumah ini sebab saat saya pertama kali datang di Pulau Meti dulu, karena hari kemalaman dan cuaca tidak bersahabat waktu itu, maka kami menjadikan rumah ini sebagai tempat bernaung hingga memungkinkan perahu ketinting bisa datang menjemput kami.

Nampaknya dengan mengusung konsep tradisional, disana-sini juga sudah dibuat penunjuk-penunjuk arah dengan bahan kayu dan cat seadanya. O iya, di depan rumah itu, memanfaatkan dua pohon kelapa yang tumbuh berdekatan, ada tulisan besar ‘METI’ yang dibuat menggunakan dahan pohon dsb. yang dapat dilihat oleh siapa saja yang datang –ini jadi semacam icon lho.

Melihat sekilas keadaan saat ini dan dibantu ingatan 3 tahun lalu, menurut saya sebagai tempat rekreasi Pulau Meti masih terbilang sama saja dengan pulau-pulau lain yang biasanya jadi tempat rekreasi di sekitar kota Tobelo. Saya tidak menemukan sesuatu yang begitu membedakan Meti dengan pulau lain yang pernah saya datangi. Pemandangan bawah laut (terumbu karang) di pulau ini sendiri tidak begitu signifikan unggul jika dibandingkan dengan Pulau Kakara yang berada di depan Tobelo misalnya –meskipun diakui saya belum jauh menjelajah tiap sudut bawah lautnya hehehe. Tidak ada juga spot pemecah ombak sebagaimana selalu dicari para peselancar yang bisa menarik mereka datang. Untuk potensi ekowisata mangrove pun secara visual terlihat tidak begitu menjanjikan. Dari ketiga hal itu, menurut saya Pulau Meti tidak begitu berbeda dengan pulau lainnya disekitaran Tobelo khususnya –atau dapat dikata sama saja.



Meskipun demikian, saya tetap optimis dan mendukung pengembangan potensi Pulau Meti sebagai salah satu tempat rekreasi potensial masyarakat Halut. Hingga tulisan ini diturunkan -sesaat ketika saya datang untuk kedua kalinya, terlihat Pulau Meti sedang berbenah. Tidak saja masyarakat lokal, ada beberapa orang asing (anak muda) yang masing-masing tengah serius mengerjakan beberapa hal  menurut bisikan konon beberapa bagian pulau ini sudah diserahkan kepada investor asing sebagai pengelolanya. Apapun yang terjadi di tubuh Pulau Meti, saya mendoakan semoga semuanya mendatangkan kesejahteraan bagi masyarakatnya. Dan kami masyarakat sekitar, paling tidak punya tambahan referensi satu tempat lagi jika hendak rekreasi.


PS: Saya ingin kembali lagi ke Pulau Meti. Hal belum saya lakukan adalah duduk menanti sunset bersama cangkir kopi diatas dermaganya. Ya, saya harus mewujudkan itu (^^)

Minggu, 10 September 2017

Nama desa Mamuya saya pastikan terdengar ketika bicara mengenai tempat Pemandian Air Panas di Kabupaten Halmahera Utara (Kab. Halut) -terlebih khusus jika membatasinya dengan kalimat disekitaran Tobelo.

Pemandian Air Panas yang berada di desa Mamuya, Kecamatan Galela ini serupa kolam yang terbentuk secara alami. Air panasnya sendiri keluar dari bebatuan sekitar. Dari kolam ini, air panas kemudian mengalir menuju laut di depan desa. Dibeberapa bagian tempat air panas mengalir tumbuh dengan subur tanaman Kangkung (Ipomea sp.) yang sering dijadikan menu sayur masyarakat.


Bagi saya lokasi Pemandian Air Panas di desa Mamuya ini terbilang cukup khas karena berada persis di kaki Gunung Mamuya. Dari Tobelo (ibukota Kab. Halut) butuh waktu sekitar 25 menit dengan sepedamotor untuk bisa tiba di Pemandian Air Panas ini. Pemandian Air Panas ini sendiri dapat dikatakan satu-satunya tempat Pemandian Air Panas yang ada di Kab. Halut.

Dulu bila hendak berendam pengunjung harus menuruni semacam lereng tanah demi sampai di kolam dibawahnya, saat ini saya hanya perlu menapaki anak tangga beton yang dibangun oleh pemerintah. Di kolam dibawahnya kini telah di betonkan dinding tepian yang sebelumnya tanah. Terlihat sudah juga dibangun beberapa rumah payung menyerupai pohon jamur yang diperuntukan bagi pengunjung untuk bersantai. Bagian dasar kolam pemandian yang dalamnya hanya seukuran perut orang dewasa ini sendiri berupa bebatuan kecil serupa kerikil sehingga tidak menimbulkan becek saat di tapaki sebagaimana dulu.

Hingga tulisan ini diorbitkan ciye ciye bahasanya haha, yang menjadi semacam ironi bagi saya: sebenarnya tempat  yang selalu digunakan orang-orang untuk berendam bukan merupakan tempat yang diperuntukan bagi para pengunjung. Bersebelahan dengan tempat itu ada tempat yang telah dibangun pemerintah untuk pengunjung yang datang untuk mandi dsb. Namun sangat tragis nasib tempat itu, kolam keramik dan segala atributnya yang sudah menguras berbagai sumberdaya ketika dibangun hanya ditinggal terbengkalai dan akhirnya kotor tidak terawat seumpama rumah di film horror saja. Saya tidak tahu apa soal sehingga tempat itu ditinggal teronggok sedemikian rupa. Mungkin ini harus jadi bahan diskusi oleh berbagai pihak (Pemda atau Pemdes) agar kedepannya tempat Pemandian Air Panas ini menjadi lebih bersahabat kepada pengunjung.

Satu hal yang juga jadi catatan penting supaya tempat ini bisa lestari adalah rasa cinta terhadap alam harus ada dalam diri setiap orang (baik masyarakat, pengunjung maupun pengelola). Kebiasaan buang sampah sembarangan harus ditiadakan –termasuk didalamnya abu dan puntung rokok hehe, juga jangan mengotori tempat pemandian ini dengan mencuci pakaian atau mandi menggunakan sabun didalam kolamnya.

Untuk datang berendam di Pemandian Air Panas Mamuya saya akan memilih bukan pada hari libur, sebab jika datang ketika hari libur saya pastikan di kolam pemandian akan ada jutaan umat manusia yang juga berendam dan otomatis mengakibatkan pengunjung tidak akan bisa menikmati sensasi berendam air panas sebagaimana mestinya.

Sekali lagi saya berharap kepada para pihak terkait agar lebih memperhatikan Pemandian Air Panas Mamuya ini. Jika tempat ini telah baik pada setiap komponennya, saya yakin akan membawa dampak positif bagi masyarakat sebab sebagaimana hukumnya: pengunjung akan dengan sukarela datang bahkan memberi tip lebih bila merasa puas –saya juga (^^)

Sabtu, 09 September 2017

Mungkin sebelum menginjak tahun 2017, orang menganggap Tanjung Pilawang sebagai satu-satunya pantai tempat rekreasi yang dekat dengan ibukota kabupaten Halmahera Utara (Kota Tobelo). Namun kini, sedikit bergeser ke arah selatan Tobelo –tepatnya di Kecamatan Tobelo Tengah- telah hadir satu tempat rekreasi pantai yang dikenal dengan Pante Pitu.

Nama‘Pante Pitu sendiri dengan otomatis dikenal orang sebab lokasi pantai (pante) yang memang masih masuk teritori desa Pitu.


Berbeda dengan saudara tuanya (Pante Tanjung Pilawang), upaya pengembangan Pante Pitu dapat dikata dilakukan secara besar-besaran. Pembangunan fasilitas-fasilitas pendukung secara kasat mata terlihat masive di beberapa bagian Pante Pitu: mulai dari mempercantik dermaga, membuat rumah-rumah mungil tempat santai, warung jajanan, sampai toilet dll.


Teman saya yang juga masyarakat desa Pitu mengatakan Pante Pitu adalah milik desa Pitu yang pengelolaannya dikoordinir oleh Badan Usaha Desa (BUMDES). Dengan hadirnya Pante Pitu, masyarakat Tobelo jadi punya banyak tujuan rekreasi di akhir pekan bersama keluarga.


Sebagai bagian dari upaya menarik pengunjung, di Pante Pitu dibangun atau diadakan berbagai ornamen khas anak-anak milenial yang selalu berburu spot foto: ada ayunan raksasa diatas pantai, jembatan yang diberi warna-warni cantik, juga dibangunnya rumah-rumah mungil menarik sebagai tempat pengunjung bersantai. Selain itu, pengelola Pante Pitu turut menghadirkan permainan-permainan air yang sedang booming: banana boat. Dengan upaya-upaya yang dilakukan itu, secara kasat mata, cukup berpengaruh terhadap jumlah pengunjung yang datang di Pante Pitu.

Sudah beberapa kali saya sempat mengunjungi Pante Pitu. Bagi saya, pantai ini sangat baik jadi tempat bersantai bersama keluarga. Disamping sudah tersedia berbagai minuman dan cemilan –yang khas adalah pisang goreng dan aer guraka, dasar pantai yang landai juga relatif aman bagi anak-anak untuk berenang atau sekadar bermain air.


Hingga kini Pante Pitu terlihat masih dalam pengembangan. Di beberapa sudut dapat ditemui sedang dibangun beberapa bangunan untuk pengunjung, dll. Mungkin oleh karena pengembangannya belum selesai, maka hingga tulisan ini dibuat, belum ada biaya yang harus dibayar ketika masuk Pante Pitu.

Semoga proses pengembgan Pante Pitu bisa segera selesai supaya pantai ini kian ramai jadi tujuan rekreasi masyarakat dan pada akhirnya menyejahterahkan masyarakat sekitar.

Sabtu, 02 September 2017

Di Kabupaten Halmahera Utara (Kab. Halut), tempat yang oleh masyarakat dikenal dengan nama Talaga Biru ini sering saya lalui setiap kali dari Tobelo hendak melakukan urusan di Galela. Memang saya sudah beberapa kali mengunjungi Talaga Biru, namun semuanya hanya sepintas lalu atau sekadar datang dan pergi. Ketika saya memutuskan mulai mendokumenkan segala tempat bagus di Kab. Halut, dan Talaga Biru menjadi salah satu dalam daftar tempat bagus tersebut, maka saya pun kembali ke Talaga Biru dengan lebih saksama demi tujuan itu hahaha

Talaga Biru nampak seperti sebuah kolam pemandian yang airnya sangat jernih dan bahkan ke-biruan. Banyak orang -dan juga saya- heran dengan Talaga Biru ini. Sebab jika melihat lingkungan sekitar, disekeliling Talaga Biru kondisi alam penuh dengan bebatuan yang nampaknya pada masa lalu adalah aliran lahar dan kini telah membatu jadi batu. Dengan keadaan alam demikian, hampir dapat dipastikan di daerah ini sangat sulit untuk menemukan sumber air. Beberapa orang dari Desa Pune (masyarakat sekitar) yang saya temui juga mengatakan demikian, dan menjadikan Talaga Biru sebagai sumber air mereka. Pertanyaan mengenai darimana air Talaga Biru berasal adalah inti keheranan banyak orang -juga saya haha

Menurut analisis saya ikut gayanya mas sentilun… Sebagaimana namanya Talaga Biru: (1) nama Talaga diberikan karena ketika ditemukan, dan dengan tidak ada satu sungai pun yang menjadi sumber darimana air berasal, maka masyarakat menganggapnya punya mata air sendiri sebagaimana suatu danau atau telaga (Talaga). (2) Biru sendiri mewakili apa yang terlihat, yakni meski tidak dalam airnya selalu terlihat jernih kebiruan. Mungkin saja air di Talaga Biru bersumber dari ceruk air bawah tanah yang alirannya juga ada di bawah tanah alias tidak menganga selayaknya sungai.

30 menit berkendara sepedamotor, saya dari Tobelo (ibukota Kab. Halut) akhirnya bisa sampai di Talaga Biru yang berada di Desa Pune, Kecamatan Galela. Entah apa gerangan, namun hari saat saya datang suasana di Talaga Biru tengah sepi dan tenang –yess… saya selalu menganggap sedang sangat beruntung bila setiap mengunjungi suatu tempat dan suasana sedang tenang seperti saat ini.

Begitu sampai saya disambut oleh gapura warna kuning khas daerah Halut. Dan di tepian saya menemukan ada semacam tempat duduk dengan desain atap seperti pohon jamur yang nampaknya sengaja dibuat bagi saya dan pengunjung lain yang datang -pertanda bahwa tempat ini sudah pernah coba untuk dikembangkan.


Selamat datang di Talaga Biru
Talaga Biru yang selalu ternaung pepohonan rindang membawa perasaan damai di hati saya. Ditambah karena air yang begitu jernihnya, dengan jelas saya bisa melihat ikan-ikan kecil yang lincah tengah bermain bergerombol di bawah air talaga. Tidak mau kehilangan kesempatan, saya kemudian segera memasang tempat tidur gantung dan menutup mata beberapa saat sekadar demi merasakan buaian mesra Talaga Biru. Puas berbaring, saya lalu mengamati sekeliling, mencatat beberapa hal di buku catatan, mengambil beberapa gambar, dan pada akhirnya saya tentu saja menceburkan diri untuk merasakan sejuk air Talaga Biru. Di dalam air, di tengah kolam terdapat satu batang pohon yang melintang bagai menghubungkan kedua sisi telaga. Batang pohon ini nampak sudah lama berada di tengah Talaga Biru, dan mungkin adalah salah satu pohon disekitar yang tumbang ke telaga. Batang pohon ini saya gunakan sebagai tempat bermain di air ketika berenang.

Bagi saya, Talaga Biru akan sangat baik kedepannya jika ada pihak yang mengembangkan secara serius. Meski dulu pernah dibangun beberapa infrastruktur disini, namun dari kondisi yang terlihat hingga tulisan ini di-publish, dapat dikatakan bahwa tidak ada perhatian yang serius dan berkelanjutan terhadap Talaga Biru sehingga membuat tempat ini bagai kehilangan masa depannya. Masyarakat dan pengunjung pun seperti acuh dengan potensi Talaga Biru. Terbukti dengan saya yang masih mudah menemukan berbagai sampah plastik di sekitar Talaga Biru.

Meski demikian, bagi saya Talaga Biru adalah salah satu tempat yang ampuh menenangkan hati. Saya berharap akan masih bisa merasakan ketenangan dan keindahan Talaga Biru di waktu mendatang. Sebagaimana legendanya, harus saya akui bahwa tempat ini (Talaga Biru) adalah tempat yang pas untuk mengikat janji setia. Mungkin, nanti saya ingin mendeklarasikan kesetiaan saya pada mu di tempat ini. Iya, kamu 😊
Keunggulan utama Tanjung Pilawang jika dibanding objek rekreasi lain disekitaran Tobelo (Ibukota Kabupaten Halmahera Utara) adalah lokasinya yang terbilang tepat di pusat kota –persisnya di Desa Gura, Kecamatan Tobelo. Dengan letak yang strategis ini, setiap orang yang berniat datang di Tanjung Pilawang tidak perlu direpotkan dengan kewajiban membawa bekal dsb. khas orang yang hendak piknik, karena selain bisa dengan mudah membelinya disepanjang perjalanan, Tanjung Pilawang sendiri sudah punya beberapa warung tradisional yang menyediakan jajanan berupa pisang goreng plus sambal ikan roa, minuman kalengan, teh manis (panas/es), kopi, dan yang selalu jadi andalannya yakni air jahe –dikenal dengan nama aer goraka oleh masyarakat.

Dari pusat kota, Pantai Tanjung Pilawang dapat dicapai dengan waktu tempuh hanya sekitar 5 menit menggunakan sepedamotor atau bentor (becak motor) –jika menggunakan bentor tarifnya 5.000/Org sekali jalan.

Bocoran info Om Guugel. (a) koordinat Tanjung Pilawang di Pulau Halmahera,
dan (b) kenampakan sedikit lebih detilnya. 
Pisang goreng dan sambal ikan roa 
Begitu memasuki lokasi Tanjung Pilawang, mata akan dimanjakan dengan sedikit pamandangan pohon mangrove disepanjang tepi jalan. Dan tepat di ujung jalan, terdapat bangunan tidak berpintu yang dibuat menyerupai rumah adat ikon kota Tobelo –disebut Hibualamo. Seingat saya, dibeberapa kesempatan, bangunan ini pernah digunakan sebagai tempat pertemuan suatu kegiatan tertentu dari masyarakat atau kelompok.

Jalan menuju Tanjung Pilawang diapit vegetasi mangrove. 

Rumah miniatur ikon kota Tobelo. 

Meski tidak berada tepat di ujungnya, Tanjung Pilawang masih menjadi bagian dari satu semenanjung mungkin namanya semenanjung pilawang maaf jika salah hehe. Dari bocoran info Om Guugel, saya melihat titik koordinat Tanjung Pilawang sebenarnya sudah berada di bagian daratan yang sedikit menjorok ke dalam –sudah masuk kawasan yang disebut teluk- sehingga menjadikan daerah pantai Tanjung Pilawang selalu mempunyai kondisi air laut yang tenang atau jauh dari bergelombang besar. Dengan keadaan air yang selalu tenang ini, Tanjung Pilawang sangat cocok sebagai tujuan rekreasi bagi mereka (khususnya keluarga) yang ingin mendampingi anaknya bermain di pantai tanpa khawatir akan bahaya ombaknya –meski tetap harus waspada ya…

Bermain di pantai sangat menyenangkan. 
Di Tanjung Pilawang juga terdapat sebuah jembatan kayu kecil yang pada beberapa waktu lalu pernah digunakan sebagai tempat antar-jemput para tamu daerah yang hendak mengunjungi pulau wisata lainnya di depan Tobelo. Hingga hari ini jembatan kayu tersebut masih ada dan kini selalu digunakan oleh anak-anak sebagai tempat mereka bermain serta melompat ke air.

Jembatan kayu yang jadi tempat anak-anak melompat ke air. 
Karena menyukai suasana tenangan dan sunyi, saya selalu memilih siang hari dan bukan pada hari libur untuk datang ke Tanjung Pilawang. Pernah sekali saya menyempatkan diri datang sewaktu rehat kerja untuk sekadar menyegarkan pikiran yang stuck akan pekerjaan –dan itu ampuh hehe. Duduk bersantai di Tanjung Pilawang saya sedikit bisa melihat langsung aktifitas pelabuhan tobelo di arah depan, penorama pulau kumo disebelah kiri, dan sedikit vegetasi mangrove di arah barat. Bagi saya, Tanjung Pilawang adalah objek rekreasi di Halmahera Utara yang sangat bersahabat dilihat dari segi apapun itu.


Saking di pusat kota, bahkan mas pedagang bakso tusuk pun gelar tikar disini. 

Disini tempat pilihan saya setiap datang di Tanjung Pilawang.
Jadi, jika saya diminta merekomendasikan tempat bersantai disekitar Tobelo kepada seseorang yang tidak ingin repot membawa ini/itu, maka saya akan lantang menyebut Tanjung Pilawang. Dan kepada yang inginkan suasana tenang serta jauh dari keramaian, maka sebaiknya datang tidak pada hari libur. Jika ingin berenang, maka wajib perhatikan juga kondisi air lautnya –sebaiknya datang pada saat sedang pasang.