Setelah
melakukan dua kali operasi; yang pertama
operasi pemasangan wire ring (semacam
kawat) di lutut yang dilakukan di Tobelo, dan yang kedua operasi pemasangan pen dengan 11 skrew/baut di paha kanan dilakukan di Manado (lihat disini),
waktu saya kemudian banyak diisi dengan beristirahat demi pemulihan. Setiap
hari saya hanya berada di rumah –khususnya kamar hehe Untunglah
saya memang tipe orang yang amat betah di rumah –anak rumahan maksudnya haha…
Bisa di bilang saya termasuk orang tertutup alias minim pergaulan. Meski
kebanyakan orang menganggap orang tipe ini tidak baik karena hanya
akan punya sedikit teman, namun setelah mengalami patah kaki saya merasa bahwa
ada sisi positif menjadi orang minim pergaulan. Tidak jadi masalah besar
jika saya harus sering di rumah, yang mana hal ini bisa jadi
tidak mungkin dilakukan mereka yang dalam tanda kutip “anak gaul” yang harus
selalu eksis dalam masyarakat hehe
Untuk mengisi hari-hari selama awal masa pemulihan pasca operasi, ada
beberapa kegiatan yang selalu saya lakukan, yakni:
Membaca Buku
Dengan mengalami
patah kaki, saya jadi punya banyak waktu luang yang hanya bisa dimanfaatkan untuk membaca –sebab aktifitas lain yang butuh banyak gerak haram dilakukan. Di rumah
ada cukup banyak buku yang utamanya tema buku rohani milik ayah, serta ada
beberapa buku pengetahuan dan novel atau sastra yang saya beli. Akhirnya waktu
istirahat pemulihan yang banyak lebih saya maknai sebagai keuntungan,
kerena dengan begitu saya berkesempatan melahap banyak buku-buku di rumah
–baik milik ayah maupun punya saya yang bahkan belum pernah sekalipun di eja
saat masih belum cidera kaki.
Menonton Film
Sebenarnya,
aktifitas menonton film bukanlah kegiatan yang baru saya lakukan pasca patah
kaki. Sebelum mengalami kecelakaan dan patah kaki pun, saya termasuk orang yang
suka film –meski di tempat domisili saya tidak ada gedung bioskop. Hanya saja, hobi menonton semakin menemukan ruangnya selama masa pemulihan patah kaki
saya. Beberapa film tentang perjuangan hidup dapat memotivasi penonton untuk
dari bangkit keterpurukan (dalam hal ini patah kaki). Bagaimana Bruce Wayne yang
berjuang bangkit lagi setelah diremukan dan dibuang Bane dalam film The Dark
Knight Rises (2012) merupakan salah satu sinema yang turut memberi saya semangat untuk pulih atau bangkit (Rises).
Berselancar
Internet
Dengan
telepon genggam pintar saya banyak menghabiskan waktu menjelajah informasi
mengenai patah kaki. Saya jadi tahu tentang ini dan itu perihal tulang dengan
berselancar di dunia maya. Dengan akses internet juga saya bisa menghubungi
beberapa teman sesame patah kaki untuk saling membangun semangat atau sekadar
berbagi kabar terkini. Kami bahkan punya grup facebook untuk itu, namanya
Sekumpulan Sahabat Patah Tulang Kaki (SEHATI) yang digawangi oleh: Mila, Lossa,
Anna, dan Eno –maaf untuk teman lainnya yang tidak disebut, saya menyebut
mereka yang heboh saja hehe… Tentang grup ini nanti saya ceritakan dibagian
lain –jika tidak lupa 😄
Jaga Rumah
Ini
aktifitas yang sebenarnya bukan sebuah aktifitas (Hah? Kok?) Saya katakan bukan sebab kegiatan ini
bukan merupakan sesuatu yang secara sadar dikerjakan, namun aktifitas ini
menjadi suatu aktifitas karena semenjak patah kaki saya memang tidak bisa
kemana-mana dan hanya di rumah. Karena tidak bisa banyak bergerak -apalagi
meninggalkan rumah- maka ketika semua orang rumah pergi beraktifitas (kerja),
dengan sendirinya saya lah yang bertugas menjaga rumah hehe… Setiap hari, Ibu harus pergi berjualan di kantin
sekolah, Ayah pergi ke bengkel las nya, dan kedua adik saya menuju
tempat kerja masing-masing, tinggalah saya ditemani nenek di rumah.
Karenanya, mau tak mau menjadi kewajiban saya juga
untuk menjaga rumah selama penghuni lain pergi.
***
Mungkin
empat kegiatan/aktifitas diatas yang rutin selalu saya lakoni selama awal masa
pemulihan patah kaki pasca operasi. Nantinya seiring dengan semakin membaik
kondisi saya, mulai lebih beragam aktifitas yang bisa saya lakukan. Nanti saja
di tulisan berikutnya saya ceritakan –sekali lagi jika saya tidak lupa hehehe