Jumat, 28 November 2014

“Apa perlu menuliskan hal ini?” saya sempat sedikit ragu bercerita mengenai topik ini. Sebagian lantaran menganggap hal ini sedikit jorok untuk ditutur, sebagian lainnya menganggap ini adalah perihal sepele yang mungkin sudah tidak pas jadi bahan cerita. Tapi mengingat tujuan tema patah kaki yang saya buat utamanya sebagai dokumen nostalgia terhadap kenangan waktu itu, maka segala hal berkesan yang terjadi sangat pantas untuk diabadikan. Dan salah satu yang termasuk berkesan adalah bagaimana ribetnya sewaktu pemulihan patah kaki dan hendak BAB 😅

Mungkin sebagian -khususnya mereka yang ekonomi menengah keatas- menganggap perihal BAB seorang penderita patah kaki adalah soal sepele, apalagi yang dirumahnya ada kloset tipe duduk yang nyaman. Namun bagi kebanyakan masyarakat negeri ini (termasuk saya), kloset duduk merupakan barang mewah. Banyak orang kloset nya masih mode jongkok, dan ketika seorang penderita patah kaki diperhadapkan dengan kloset jongkok, sebuah kegelisahan hati pun sekejap muncul gubrraakk Hal ini disebabkan pada awal masa pemulihan untuk bergerak apalagi menekuk lutut sebagaimana diharuskan bagi pengguna kloset jongkok adalah haram hukumnya untuk dilakukan.

Untuk memudahkan pelaksanaan kewajiban BAB, maka saya memodifikasi kursi plastik di rumah jadi dudukan yang nyaman ketika menggunakan kloset jongkok. Garis besar konsepnya: kursi plastik dimodifikasi kemudian nantinya diletakan diatas kloset jongkok sehingga jadi tempat yang relatif memudahkan penderita patah kaki untuk BAB.

Langkah pertama yang harus dilakukan adalah memilih kursi plastik yang cocok dengan lebar kloset jongkoknya. Pemilihan ini dapat dilakukan dengan mudah yakni meletakan kursi diatas kloset jongkok. Jika kursi plastik bisa atau pas berada diatas kloset, itu berarti kursinya cocok.

Langkah selanjutnya melakukan modifikasi kursi yakni: membuat lubang di bagian dudukan kursi plastik. Posisi dan diameter lubang dapat disesuaikan, namun size diameter jangan terlalu besar biar masih banyak ruang bagi dudukan nantinya. Setelah itu selesai sudah dan siap digunakan.

Penggunaan modifikasi ini mudah saja, tinggal meletakan kursi plastik yang sudah dimodifikasi (atau dilubangi) diatas kloset jongkok untuk kemudian digunakan bagi penggunanya.

Dengan adanya kursi plastik yang dimodifikasi, sudah tidak ada lagi kegelisahaan yang timbul setiap hendak BAB.

*BAB singkatan dari Buang Air Besar

Jumat, 21 November 2014

“Jangan-jangan kaki saya tidak akan bisa menekuk lagi nantinya?”

Jika kamu mengalami patah kaki, sudah melakukan operasi, sedang dalam masa pemulihan, dan tetiba menyadari bahwa lutut tidak bisa menekuk akibat kaku sendi, jangan takut sebab kamu tidak sendiri –saya juga mengalaminya 😁

***

Beberapa bulan setelah melakukan operasi pasang pen di paha kanan, saat sudah bisa kesana-kemari menggunakan tongkat, saya lalu mendapati lutut tidak bisa menekuk dengan sempurna –bahkan jauh dari sempurna. Saya kemudian dihantui pikiran tidak akan bisa lagi menekuk lutut. Sejak hari itu, saya seperti jadi tamu beringas mengobrak-abrik kediaman mbah google demi menemukan penjelasan.

Bersama dokter tulang di manado yang selalu memberi
penjelasan menyejukan -namanya dokter Djarot.
Tak puas dengan berbagai penjelasan yang berserak di meja internet, saya bahkan berulang menanyakan hal ini kepada dokter tulang yang mengoperasi kaki saya. “itu biasa,” katanya menanggapi ketakutan saya, “sebaiknya fokus dulu ke penyambungan tulangnya. Nanti jika tulang sudah tersambung cukup baik, baru kamu mulai melatih otot lagi,” dokter melanjutkan kesimpulannya sambil tersenyum seperti memahami kegelisahan saya yang mungkin juga sudah pernah dihadap diantara pasien lainnya.

Penjelasan dokter pada dasarnya sama dengan berbagai bacaan yang saya lahap di internet dll. Intinya, kaku sendi umum terjadi kepada pasien patah kaki (dan patah tulang pada umumnya) dan hal tersebut bisa kembali normal.

Sepemahaman saya dari berbagai sumber, secara garis besar, kaku sendi (dalam kasus saya sendi lutut) bisa terjadi jika jaringan otot dan/atau sendi tertidur cukup lama atau tidak digunakan. Sendi dan otot merupakan jaringan tubuh yang lunak (bukan jaringan keras maaf jika salah istilah) dan memang dirancang untuk selalu digerakan. Olehnya, ketika sendi dalam jangka waktu lama tidak difungsikan maka berakibat tidak bekerja seperti normal (kaku) pada saat hendak digerakan. Otot pun demikian, saat masa pemulihan patah kaki, dikarenakan harus banyak beristirahat (bedrest) yang membuat otot kaki tidak banyak bergerak, maka masa otot akan menyusut (mengecil) sebab lama tertidur. Pengalaman setelah beberapa bulan bedrest pasca operasi, secara visual saya mendapati paha kiri saya lebih besar dari pada masa paha kanan yang mengalami patah tulang.

“lalu bagaimana cara agar lutut saya dapat menekuk lagi dok?” saya menanyakan pertanyaan paling penting.

“nanti juga pasti normal,” dokter sambil tersenyum, “sendi dan otot akan kembali dengan latihan fisik yang sesuai dan rutin.”

Supaya kaku sendi bisa diminimalkan, sebaiknya latihan otot dimulai sedini mungkin. Meski demikian, kapan dan seperti apa bentuk latihan otot dan menekuk lutut sebaiknya harus berdasarkan petunjuk dokter. Selepas keluar meja operasi, oleh dokter sedari awal disarankan dibawah lutut saya selalu di alas bantalan tinggi biar kaki tidak selalu dalam posisi lurus selama bedrest. Sewaktu masih di rumah sakit, setiap hari perawat datang dan sedikit menggerak-gerakan kaki saya dengan alur: ditekuk>>diluruskan>>ditekuk>>diluruskan. Perawat rumah sakit berpesan agar gerakan ini dilakukan setelah pulang ke rumah.

Sekali lagi, meski dianjurkan sedini mungkin dilakukan, saya tidak terlalu ngotot melakukan latihan dengan bentuk dan frekuensi yang berat mengingat pada awal masa pemulihan pasca operasi tulang belum menyambung dan mengharuskan banyak istirahat. Frekuensi dan bentuk latihan sendi/otot bisa ditingkatkan setelah mendapati kondisi tulang sudah berangsur membaik (tersambung). Dan juga sebaiknya selalu konsultasikan ke dokter mengenai hal ini.

Oke, mungkin sampai disini cerita mengenai kaku sendi ini. Mengutip kata dokter saya, kaku sendi dan tidak bisa menekuk merupakan hal yang umum bagi pasien patah kaki (patah tulang pada umumnya), dan hal tersebut bisa kembali normal. Hampir semua yang mengalami patah kaki (patah tulang pada umumnya) juga merasakan hal ini. Jadi, jika kamu mengalami patah kaki, sudah melakukan operasi, sedang dalam masa pemulihan, dan tetiba menyadari bahwa lutut tidak bisa menekuk akibat kaku sendi, jangan takut sebab kamu tidak sendiri –saya juga mengalaminya 😁
Bosan merupakan hal utama selalu dirasa oleh yang mengalami patah kaki. Bagaimana tidak, selama 24 jam setiap hari sepanjang masa pemulihan, hal yang dilakukan adalah beristirahat. Tidak bisa melakukan ini, itu, dan lainnya yang mana mungkin merupakan aktifitas kegemaran sebelum mengalami patah kaki. Olehnya, penderita patah kaki selalu bertekad segera sembuh demi mengakhiri rasa bosan –terutama saya 😁

Diantara segala upaya yang dilakukan demi segera sembuh, bagi saya, rajin minum susu kalsium termasuk salah satu hal yang penting. Mengapa demikian?

Memang secara normal, tubuh dengan sendiri akan memulihkan dirinya jika mengalami rangsangan dari luar yang menciderai (luka/patah tulang) –sudah sedikit saya jelaskan disini. Namun dalam rangka mempercepat atau mengoptimalkan kerja tubuh dalam pemulihan patah tulang, maka kita sangat perlu melakukan tindakan-tindakan tambahan tertentu yang salah satunya adalah rajin mongkonsumsi susu kalsium.

Dalam penyembuhan patah tulang, tubuh bekerja untuk menyatukan dua bagian tulang yang terpisah karena patah. Untuk menyatukan dua bagian tulang tersebut, tubuh perlu membuat matrix (cikal-bakal) tulang yang bahan utamanya adalah kalsium. Disinilah pentingnya asupan susu kalsium yakni selalu menyediakan bahan utama pembentuk matrix tulang tadi.

Ada banyak merk susu kalsium yang beredar, dan saya tidak punya kemampuan untuk menyebut mana merk terbaik hehe… Namun bagi saya soal susu ini pemilihannya mungkin harus berdasar kepada rasa suka atau tidak suka. Maksudnya, jika susu merk-A meskipun dikatakan kandungan kalsium paling tinggi dsb, namun ternyata tidak cocok dengan kita, maka sebaiknya mencari susu merk lainnya saja. Jika ada susu kalsium merk-B yang cocok, maka saya akan memilih yang itu, sebab minum susu kalsium ini bukan hanya satu-dua kali saja, namun harus rutin dilakukan selama masa penyembuhan –bahkan mungkin tanpa henti.

Oleh dokter dikatakan minum susu kalsium idealnya 2 gelas setiap hari. Disamping itu, juga diingatkan agar waktu minum susu diusahakan tidak bersamaan dengan saat makan berat, sebab hal itu akan mengganggu tubuh mengambil zat gizi lainnya dari makanan (utamanya protein). Saya sendiri waktu minum susu selalu pada sore dan malam hari dimana tidak bersamaan dengan waktu makan –meski kadangkala waktu ini tidak menentu bahkan melenceng hehe

Beberapa teman yang juga mengalami patah kaki pernah bertanya apakah bisa jika tidak rutin minum susu. Sebenarnya hal itu bisa saja sebab sekali lagi tubuh pasti dengan sendiri memulihkan dirinya. Tubuh bisa mendapat sumber kalsium dan juga protein dari menu makan dan minum lain selain susu. Tetapi sejauh yang saya tahu, susu adalah sumber kalsium yang paling terukur kandungannya.

Dengan membaca kotak susu saja bisa diketahui berapa kandungan kalsium, protein, lemak, dll. Di beberapa merk bahkan disebutkan dengan meminum segelas maka akan ada sekian banyak zat gizi yang didapat tubuh. Hal ini yang tidak ada di sumber-sumber makanan lainnya. Untuk itu kenapa saya kemudian rajin minum susu kalsium.

Jadi, mari kita selalu minum susu (^^)

Minggu, 16 November 2014

Pante Paser Panjang berada di desa Ruko, Kabupaten Halmahera Utara. Dari Tobelo, perjalanan menuju Pante Paser Panjang memakan waktu sekitar 20 menit menggunakan transportasi darat (sepedamotor atau mobil). 10 menit pertama kendaraan melaju diatas jalan aspal, setelah itu sepedamotor atau mobil harus menempuh jalan setapak di sela-sela kebun warga.

Meski sudah punya Pante Tanjung Pilawang, Pante Kupa-Kupa, Pante Pitu, dsb., keberadaan pantai pasir putih desa Ruko ini kian menambah kekayaan spot rekreasi pantai disekitaran Tobelo. Jadi ketika tiba akhir pekan, masyarakat Tobelo punya semakin banyak pilihan tujuan rekreasi.

Tantangan utama ketika hendak mengunjungi Pante Paser Panjang adalah kita harus melalui jalan setapak tanah bernuansa off road di sela kebun warga. Jalan setapak ini murni jalan tanah yang di kiri-kanan ditumbuhi rerumputan, bahkan dibeberapa bagian setapak ada tanjakan yang cukup membuat khawatir ketika akan melintasinya. Beberapa pengunjung ketika hendak menanjak di jalan setapak ini sampai harus menurunkan boncengannya dulu barulah sepedamotor bisa lulus menanjak hehe.

Harus bisa off road.
Memang pasir di Pante Paser Panjang relatif lebih kasar jika dibanding dengan pasir pantai di Pulau Kakara misalnya. Pante Paser Panjang pasirnya lebih menyerupai pasir yang terbentuk dari pengikisan karang. Butir-butir pasirnya bahkan secara kasat mata bisa kita  takar ukuran diameternya.

Batu karang yang kian habis terkikis ombak.
Nama Pante Paser Panjang sendiri mungkin diberi dengan alasan karena garis pantainya yang memang terbilang cukup panjang. Pantai ini seperti memiliki patok di tiap ujung garis pantai: di ujung sebelah utara ada bebatuan yang menjorok keluar sebagai patoknya, sementara di ujung bagian selatan juga punya gugusan bebetuan lain yang membentuk semenanjung.

Salah satu spot foto terlaris di Pante Paser Panjang berada di bagian selatan pantai. Disana ada gugusan beberapa batuan yang menjorok keluar dari air laut. Dari kenampakannya, bebatuan ini mungkin adalah sisa proses vulkanik gunung dukono. Banyak orang yang datang ke pantai ini pasti tidak melewatkan untuk mengambil gambar di sudut ini.

Gugusan batuan yang jadi tempat foto favorit.
Bersebelahah dengan gugusan bebatuan tempat spot foto Pante Paser Panjang, terdapat bagian pantai yang saya suka. Bagi saya, berenang di sudut ini lebih menyenangkan daripada di bagian lainnya. Ombak di sebelah sini lebih tenang, dan disamping itu, berenang dibagian ini relatif tersembunyi dan jauh dari keramaian pengunjung lainnya hingga serasa pantai ini jadi milik pribadi.

Sudut pantai yang pas untuk berenang -bagi saya hehe.
Memang, hingga cerita ini dituturkan, pantai ini masih terlihat belum banyak dikelola potensinya. Tetapi ditelisik dari keindahan alamnya, jika dikembangkan dengan baik, Pante Paser Panjang tidak akan kalah saing dari pantai-pantai yang sudah lebih dulu booming jadi tujuan rekreasi masyarakat Tobelo.

Jumat, 14 November 2014

Setelah melakukan dua kali operasi; yang pertama operasi pemasangan wire ring (semacam kawat) di lutut yang dilakukan di Tobelo, dan yang kedua operasi pemasangan pen dengan 11 skrew/baut di paha kanan dilakukan di Manado (lihat disini), waktu saya kemudian banyak diisi dengan beristirahat demi pemulihan. Setiap hari saya hanya berada di rumah –khususnya kamar hehe Untunglah saya memang tipe orang yang amat betah di rumah –anak rumahan maksudnya haha…

Bisa di bilang saya termasuk orang tertutup alias minim pergaulan. Meski kebanyakan orang menganggap orang tipe ini tidak baik karena hanya akan punya sedikit teman, namun setelah mengalami patah kaki saya merasa bahwa ada sisi positif menjadi orang minim pergaulan. Tidak jadi masalah besar jika saya harus sering di rumah, yang mana hal ini bisa jadi tidak mungkin dilakukan mereka yang dalam tanda kutip “anak gaul” yang harus selalu eksis dalam masyarakat hehe

Untuk mengisi hari-hari selama awal masa pemulihan pasca operasi, ada beberapa kegiatan yang selalu saya lakukan, yakni:

Membaca Buku
Dengan mengalami patah kaki, saya jadi punya banyak waktu luang yang hanya bisa dimanfaatkan untuk membaca –sebab aktifitas lain yang butuh banyak gerak haram dilakukan. Di rumah ada cukup banyak buku yang utamanya tema buku rohani milik ayah, serta ada beberapa buku pengetahuan dan novel atau sastra yang saya beli. Akhirnya waktu istirahat pemulihan yang banyak lebih saya maknai sebagai keuntungan, kerena dengan begitu saya berkesempatan melahap banyak buku-buku di rumah –baik milik ayah maupun punya saya yang bahkan belum pernah sekalipun di eja saat masih belum cidera kaki.

Menonton Film
Sebenarnya, aktifitas menonton film bukanlah kegiatan yang baru saya lakukan pasca patah kaki. Sebelum mengalami kecelakaan dan patah kaki pun, saya termasuk orang yang suka film –meski di tempat domisili saya tidak ada gedung bioskop. Hanya saja, hobi menonton semakin menemukan ruangnya selama masa pemulihan patah kaki saya. Beberapa film tentang perjuangan hidup dapat memotivasi penonton untuk dari bangkit keterpurukan (dalam hal ini patah kaki). Bagaimana Bruce Wayne yang berjuang bangkit lagi setelah diremukan dan dibuang Bane dalam film The Dark Knight Rises (2012) merupakan salah satu sinema yang turut memberi saya semangat untuk pulih atau bangkit (Rises).

Berselancar Internet
Dengan telepon genggam pintar saya banyak menghabiskan waktu menjelajah informasi mengenai patah kaki. Saya jadi tahu tentang ini dan itu perihal tulang dengan berselancar di dunia maya. Dengan akses internet juga saya bisa menghubungi beberapa teman sesame patah kaki untuk saling membangun semangat atau sekadar berbagi kabar terkini. Kami bahkan punya grup facebook untuk itu, namanya Sekumpulan Sahabat Patah Tulang Kaki (SEHATI) yang digawangi oleh: Mila, Lossa, Anna, dan Eno –maaf untuk teman lainnya yang tidak disebut, saya menyebut mereka yang heboh saja hehe… Tentang grup ini nanti saya ceritakan dibagian lain –jika tidak lupa 😄

Jaga Rumah
Ini aktifitas yang sebenarnya bukan sebuah aktifitas (Hah? Kok?) Saya katakan bukan sebab kegiatan ini bukan merupakan sesuatu yang secara sadar dikerjakan, namun aktifitas ini menjadi suatu aktifitas karena semenjak patah kaki saya memang tidak bisa kemana-mana dan hanya di rumah. Karena tidak bisa banyak bergerak -apalagi meninggalkan rumah- maka ketika semua orang rumah pergi beraktifitas (kerja), dengan sendirinya saya lah yang bertugas menjaga rumah hehe… Setiap hari, Ibu harus pergi berjualan di kantin sekolah, Ayah pergi ke bengkel las nya, dan kedua adik saya menuju tempat kerja masing-masing, tinggalah saya ditemani nenek di rumah. Karenanya, mau tak mau menjadi kewajiban saya juga untuk menjaga rumah selama penghuni lain pergi.

***

Mungkin empat kegiatan/aktifitas diatas yang rutin selalu saya lakoni selama awal masa pemulihan patah kaki pasca operasi. Nantinya seiring dengan semakin membaik kondisi saya, mulai lebih beragam aktifitas yang bisa saya lakukan. Nanti saja di tulisan berikutnya saya ceritakan –sekali lagi jika saya tidak lupa hehehe

Jumat, 07 November 2014

Hendak menuju Manado untuk operasi pasang pen
(kondisi 5 hari pasca kecelakaan). 
Butuh waktu sekitar 18 jam perjalanan laut demi mendapatkan penanganan medis (operasi pasang pen) terhadap patah kaki yang saya alami.

Belum adanya dokter tulang dan ketersediaan peralatan yang memadai saat itu (awal Juli 2012) jadi alasan saya harus dirujuk ke Manado. Saya yang dalam keadaan 80 persen tak sadar ditemani oleh Ayah, ibu dan seorang Penata Anastesi saudara kami (biasa di sapa Ka Erik). Meski samar tapi saya mengingat ada banyak kerabat yang mengantar kami sedari rumah sakit hingga di atas kapal.

Setiap kali mengingat waktu itu, saya selalu bersyukur kepada Tuhan, sebab atas cinta-Nya saja maka selama diperjalanan keadaan laut sangat tenang sehingga tidak begitu mengganggu saya yang patah kaki dan hanya terbungkus perban –jika saja keadaan laut bergelombang, maka tidak dapat saya bayangkan bagaimana penderitaan yang akan saya rasakan.
Keluarga yang sudah menanti di RS. Malalayang - Manado
Keluarga dan kerabat sudah menanti ketika tiba di Rumah Sakit Prof. dr. Kandou Manado (biasa disebut RS. Malalayang). Esoknya, dalam kondisi yang masih setengah sadar saya kembali harus menjalani serangkaian pemeriksaan (seperti: pemeriksaan darah, rontgen, dsb.) demi mencocokan data dan/atau keterangan dari rumah sakit sebelumnya. Dua hari setelah tiba di RS. Malalayang saya masuk ruang operasi.

Ka Erik bercerita bahwa didalam ruang operasi semua proses berjalan dengan lancar. “Namanya Djarot Noersasongko (biasa dipanggil Dokter Djarot) adalah dokter yang melakukan operasi pasang pen di paha kamu. Dia sangat ahli dibidangnya dan memang terkenal sebagai dokter tulang bagus di Manado.” begitu Ka Erik berujar.
A. Hasil rontgen tulang paha setelah pasang pen,
dan B. Kenampakan luar kaki yang patah.
Setelah selesai operasi, di paha kanan saya berdiam dengan manis pen platina dengan 11 sekrupnya. Selanjutnya atas anjuran dokter, saya masih berada di RS. Malalayang sekadar untuk memulihkan kondisi tubuh. Ayah dan ibu terus menemani saya siang-malam tanpa lelah. Selama pemulihan di rumah sakit ada banyak kerabat datang membesuk juga memberi doa dan semangat -bahkan tidak segan mendonorkan darahnya.

Sekitar seminggu lebih di rumah sakit, saya pun keluar dan tinggal di rumah keluarga di Manado. Saya sempat sekali melakukan cek-ap ke tempat praktek dr. Djarot untuk mengetahui pendapatnya tentang kondisi kaki saya setelah operasi, meminta saran mengenai apa saja yang harus dilakukan selama masa penyembuhan, bertanya tentang makanan dan minuman yang dapat mempercepat pertumbuhan tulang, dan banyak hal lainnya. Saat itu saya yang ditemani ayah dan ibu mengucap terima kasih kepada dokter karena sudah melakukan operasi yang lancar dan sekaligus pamitan bahwa kami akan kembali ke Tobelo. Mendengar itu, dokter dengan senang hati menjawab dan memberi penjelasan terhadap setiap pertanyaan kami.

Meski masih dalam masa pemulihan pasca operasi, hari senin 6 Agustus 2012 saya ditemani ayah dan ibu kembali melakukan perjalanan laut menuju Tobelo. Ayah dan ibu harus kembali kepada pekerjaan yang sudah ditinggal selama sekitar sebulan lantaran memilih menemani saya operasi.

PS: Sangat berterima kasih dan bangga kepada kalian -keluarga dan kerabat di Manado yang setia menemani sampai melepas kami pulang ke Tobelo.