| Hendak menuju Manado untuk operasi pasang pen (kondisi 5 hari pasca kecelakaan). |
Butuh waktu sekitar 18 jam perjalanan laut demi mendapatkan penanganan medis (operasi pasang pen) terhadap patah kaki yang saya alami.
Belum adanya dokter tulang dan ketersediaan peralatan yang memadai saat itu (awal Juli 2012) jadi alasan saya harus dirujuk ke Manado. Saya yang dalam keadaan 80 persen tak sadar ditemani oleh Ayah, ibu dan seorang Penata Anastesi saudara kami (biasa di sapa Ka Erik). Meski samar tapi saya mengingat ada banyak kerabat yang mengantar kami sedari rumah sakit hingga di atas kapal.
Setiap kali mengingat waktu itu, saya selalu bersyukur kepada Tuhan, sebab atas cinta-Nya saja maka selama diperjalanan keadaan laut sangat tenang sehingga tidak begitu mengganggu saya yang patah kaki dan hanya terbungkus perban –jika saja keadaan laut bergelombang, maka tidak dapat saya bayangkan bagaimana penderitaan yang akan saya rasakan.
![]() |
| Keluarga yang sudah menanti di RS. Malalayang - Manado |
Keluarga dan kerabat sudah menanti ketika tiba di Rumah Sakit Prof. dr. Kandou Manado (biasa disebut RS. Malalayang). Esoknya, dalam kondisi yang masih setengah sadar saya kembali harus menjalani serangkaian pemeriksaan (seperti: pemeriksaan darah, rontgen, dsb.) demi mencocokan data dan/atau keterangan dari rumah sakit sebelumnya. Dua hari setelah tiba di RS. Malalayang saya masuk ruang operasi.
Ka Erik bercerita bahwa didalam ruang operasi semua proses berjalan dengan lancar. “Namanya Djarot Noersasongko (biasa dipanggil Dokter Djarot) adalah dokter yang melakukan operasi pasang pen di paha kamu. Dia sangat ahli dibidangnya dan memang terkenal sebagai dokter tulang bagus di Manado.” begitu Ka Erik berujar.
Setelah selesai operasi, di paha kanan saya berdiam dengan manis pen platina dengan 11 sekrupnya. Selanjutnya atas anjuran dokter, saya masih berada di RS. Malalayang sekadar untuk memulihkan kondisi tubuh. Ayah dan ibu terus menemani saya siang-malam tanpa lelah. Selama pemulihan di rumah sakit ada banyak kerabat datang membesuk juga memberi doa dan semangat -bahkan tidak segan mendonorkan darahnya.
Sekitar seminggu lebih di rumah sakit, saya pun keluar dan tinggal di rumah keluarga di Manado. Saya sempat sekali melakukan cek-ap ke tempat praktek dr. Djarot untuk mengetahui pendapatnya tentang kondisi kaki saya setelah operasi, meminta saran mengenai apa saja yang harus dilakukan selama masa penyembuhan, bertanya tentang makanan dan minuman yang dapat mempercepat pertumbuhan tulang, dan banyak hal lainnya. Saat itu saya yang ditemani ayah dan ibu mengucap terima kasih kepada dokter karena sudah melakukan operasi yang lancar dan sekaligus pamitan bahwa kami akan kembali ke Tobelo. Mendengar itu, dokter dengan senang hati menjawab dan memberi penjelasan terhadap setiap pertanyaan kami.
Meski masih dalam masa pemulihan pasca operasi, hari senin 6 Agustus 2012 saya ditemani ayah dan ibu kembali melakukan perjalanan laut menuju Tobelo. Ayah dan ibu harus kembali kepada pekerjaan yang sudah ditinggal selama sekitar sebulan lantaran memilih menemani saya operasi.
PS: Sangat berterima kasih dan bangga kepada kalian -keluarga dan kerabat di Manado yang setia menemani sampai melepas kami pulang ke Tobelo.


0 comments:
Posting Komentar
Terima Kasih Sudah Berkunjung,
Mohon Tinggalkan Komentar Yang Konstruktif // Hanya Komentar Yang Berkualitas & Sesuai Dengan Isi Artikel Diatas Yang Akan Ditampilkan // Mari Saling Membangun
Salam (^^)