Sabtu, 02 September 2017

Keunggulan utama Tanjung Pilawang jika dibanding objek rekreasi lain disekitaran Tobelo (Ibukota Kabupaten Halmahera Utara) adalah lokasinya yang terbilang tepat di pusat kota –persisnya di Desa Gura, Kecamatan Tobelo. Dengan letak yang strategis ini, setiap orang yang berniat datang di Tanjung Pilawang tidak perlu direpotkan dengan kewajiban membawa bekal dsb. khas orang yang hendak piknik, karena selain bisa dengan mudah membelinya disepanjang perjalanan, Tanjung Pilawang sendiri sudah punya beberapa warung tradisional yang menyediakan jajanan berupa pisang goreng plus sambal ikan roa, minuman kalengan, teh manis (panas/es), kopi, dan yang selalu jadi andalannya yakni air jahe –dikenal dengan nama aer goraka oleh masyarakat.

Dari pusat kota, Pantai Tanjung Pilawang dapat dicapai dengan waktu tempuh hanya sekitar 5 menit menggunakan sepedamotor atau bentor (becak motor) –jika menggunakan bentor tarifnya 5.000/Org sekali jalan.

Bocoran info Om Guugel. (a) koordinat Tanjung Pilawang di Pulau Halmahera,
dan (b) kenampakan sedikit lebih detilnya. 
Pisang goreng dan sambal ikan roa 
Begitu memasuki lokasi Tanjung Pilawang, mata akan dimanjakan dengan sedikit pamandangan pohon mangrove disepanjang tepi jalan. Dan tepat di ujung jalan, terdapat bangunan tidak berpintu yang dibuat menyerupai rumah adat ikon kota Tobelo –disebut Hibualamo. Seingat saya, dibeberapa kesempatan, bangunan ini pernah digunakan sebagai tempat pertemuan suatu kegiatan tertentu dari masyarakat atau kelompok.

Jalan menuju Tanjung Pilawang diapit vegetasi mangrove. 

Rumah miniatur ikon kota Tobelo. 

Meski tidak berada tepat di ujungnya, Tanjung Pilawang masih menjadi bagian dari satu semenanjung mungkin namanya semenanjung pilawang maaf jika salah hehe. Dari bocoran info Om Guugel, saya melihat titik koordinat Tanjung Pilawang sebenarnya sudah berada di bagian daratan yang sedikit menjorok ke dalam –sudah masuk kawasan yang disebut teluk- sehingga menjadikan daerah pantai Tanjung Pilawang selalu mempunyai kondisi air laut yang tenang atau jauh dari bergelombang besar. Dengan keadaan air yang selalu tenang ini, Tanjung Pilawang sangat cocok sebagai tujuan rekreasi bagi mereka (khususnya keluarga) yang ingin mendampingi anaknya bermain di pantai tanpa khawatir akan bahaya ombaknya –meski tetap harus waspada ya…

Bermain di pantai sangat menyenangkan. 
Di Tanjung Pilawang juga terdapat sebuah jembatan kayu kecil yang pada beberapa waktu lalu pernah digunakan sebagai tempat antar-jemput para tamu daerah yang hendak mengunjungi pulau wisata lainnya di depan Tobelo. Hingga hari ini jembatan kayu tersebut masih ada dan kini selalu digunakan oleh anak-anak sebagai tempat mereka bermain serta melompat ke air.

Jembatan kayu yang jadi tempat anak-anak melompat ke air. 
Karena menyukai suasana tenangan dan sunyi, saya selalu memilih siang hari dan bukan pada hari libur untuk datang ke Tanjung Pilawang. Pernah sekali saya menyempatkan diri datang sewaktu rehat kerja untuk sekadar menyegarkan pikiran yang stuck akan pekerjaan –dan itu ampuh hehe. Duduk bersantai di Tanjung Pilawang saya sedikit bisa melihat langsung aktifitas pelabuhan tobelo di arah depan, penorama pulau kumo disebelah kiri, dan sedikit vegetasi mangrove di arah barat. Bagi saya, Tanjung Pilawang adalah objek rekreasi di Halmahera Utara yang sangat bersahabat dilihat dari segi apapun itu.


Saking di pusat kota, bahkan mas pedagang bakso tusuk pun gelar tikar disini. 

Disini tempat pilihan saya setiap datang di Tanjung Pilawang.
Jadi, jika saya diminta merekomendasikan tempat bersantai disekitar Tobelo kepada seseorang yang tidak ingin repot membawa ini/itu, maka saya akan lantang menyebut Tanjung Pilawang. Dan kepada yang inginkan suasana tenang serta jauh dari keramaian, maka sebaiknya datang tidak pada hari libur. Jika ingin berenang, maka wajib perhatikan juga kondisi air lautnya –sebaiknya datang pada saat sedang pasang.

Kamis, 27 Juli 2017

Memang Burung Gereja bukanlah jenis burung yang punya nilai jual tinggi untuk diburu orang. Baik secara fisik maupun kicauan, Burung Gereja relatif jauh tertinggal dibanding jenis lain yang selalu jadi incaran para pengamat burung. Meski begitu, kehadiran burung kecil bewarna cokelat-kehitaman di sekitar rumah sangat ampuh bawa nuansa alami dan menenagkan.

Saya pribadi sangat senang ketika misalnya di siang hari kala sedang istirahat kemudian terdengar kicauan Burung Gereja yang saling sahut di pohon mangga depan rumah. Ataupun juga di waktu sore tingkah sekelompok Burung Gereja yang lucu dan “nakal” saat cari makan di bagian dapur rumah menghibur saya yang biasanya sedang ngopi di jam itu.

Karena senangnya melihat burung ini, saya bahkan sampai sempat-sempatnya meletakan remah makanan atau sedikit beras di bagian sudut rumah yang sering didatanginya. Hal itu dimaksud agar burung cokelat ini selalu senang bermain di rumah saya.

Saya pernah mendengar, sebutan Burung Gereja diberi lantaran dalam catatan sejarahnya biar terkesan sedikit ilmiah saja haha, dikarenakan demi terhindar dari predator burung jenis ini selalu mencari tempat yang tinggi untuk berumah. Dan pada waktu itu karena bangunan yang relatif tinggi umumnya adalah gedung gereja, maka itulah tempat yang secara insting dipilih burung ini sebagai tempat bersarang. Jadilah nama Burung Gereja diberikan.

Sedikit melakukan investigasi widiiihh kaya detektif saja ni orang saya mencari tahu tentang Burung Gereja lebih jauh. Bagaimana cara membuatnya sering datang di rumah, membuat tempat makannya, bahkan sampai bagaimana desain tempat agar burung ini mau membuat sarang di sekitar rumah. Semoga semuanya bisa saya aplikasikan agar Burung Gereja betah datang maen di rumah dan terus menghadirkan nuansa alami -setidaknya bagi saya.

Rabu, 04 Januari 2017

Agama itu intinya adalah kasih. Semua orang seharusnya saling mengasihi, tidak membenci, apalagi saling membunuh. Bagi saya itulah intisari yang ingin disampaikan film Hacksaw Ridge.

Hidup dalam keluarga Kristen yang taat Desmond Doss (Andrew Garfield) harus diperhadapkan kepada situasi zaman yang mengharuskannya memilih apakah akan mengabdi penuh kepada Negara atau tetap taat terhadap agama yang dianut. Disamping dari keluarga Kristen taat, ayah Desmond adalah seorang veteran yang menjunjung tinggi nilai patriot kebangsaan. Dilema menghantui Desmon karena dia sadar bahwa memilih salah satu, maka akan mengorbankan yang lainnya –sementara dia sangat ingin tetap setia kepada keduanya. Desmond yang memegang teguh nilai-nilai kekristenan akhirnya mengambil “jalan tengah” yang menurutnya tetap membuat dua pilihan tersebut -Negara dan Agama- tetap dapat dilaksanakannya dengan seimbang, yakni dengan mendaftarkan diri ikut wajib militer namun memilih posisi pada bagian medis dimana dia berkeyakinan disana pastinya dia tidak membunuh seseorang –musuh sekalipun.

Keseluruhan film berdurasi 2 jam lebih ini sebenarnya menceritakan tentang bagaimana Desmond mempertahankan dan mengamalkan prinsip yang diyakininya, yakni berperang tanpa membunuh. Dengan memegang teguh perintah “Jangan Membunuh” dalam kitab suci, dia menjadi bahan olokan bahkan bully dari teman-teman selama pelatihan militer. Walaupun begitu, tidak saja saat di kamp pelatihan, Desmond juga mengamalkan perintah “Jangan Membunuh” saat tengah berada di medan tempur –kagum saya (serius).

Bagi saya Hacksaw Ridge berhasil menampar saya –atau kita- sebagai manusia Indonesia yang terkenal sebagai bangsa beragama. Meski dapat dikata bahwa segala macam manusia yang lahir dalam tubuh Ibu Pertiwi ini adalah orang beragama, tetapi apakah kita saling mengasihi? Disinilah film arahan Mel Gibson menyindir kita –atau saya. Sebab meski terkenal sebagai bangsa beragama, saya menemukan begitu banyak ingatan tentang saling membenci antar sesama kita orang beragama, tidak saja yang berbeda tetapi bahkan dalam satu agama yang sama tak jarang saling benci dengan berbagai alasan.

Tidak banyak ingatan saya berkait karya Mel Gibson dalam posisi sebagai sutradara, tetapi setelah The Passion Of The Christ (2004), karya beliau selalu mengambil tema kemanusiaan atau nilai agama –Kristen khususnya. Dan meski tidak menggaung secara terbuka, tetapi nilai kekristenan sangat kental rasanya dalam Hacksaw Ridge. Bagi saya, dua komponen tema yang jadi bumbu utama dalam film ini adalah drama dan aksi (action), dan keduanya terasa pas di lidah saya haha.  Drama tentang bagaimana Desmond mempertahankan keyakinannya terasa kental, dan action-nya juga cukup seru dan mendebarkan -meskipun hanya pada bagian akhir saja.

Andrew Garfield sendiri bermain pas sebagai seorang anak muda biasa yang terpaksa ikut wajib militer dalam tokoh Desmond Doss -meskipun jujur saja saya tidak bisa melepas bayangan Peter Parker (Amazing Spiderman) setiap lihat mimik sedihnya itu loh. Dan meskipun ada beberapa tokoh lain yang dilakoni aktor terkenal -Hugo Weaving, Vince Vaughn, Sam Worthington, tetapi Om Mel dengan cerdik membatasi ruang gerak mereka demi memfokuskan cerita dan konflik hanya kepada sang tokoh utama (Desmond Doss / Andrew Garfield).

Adegan dalam film yang paling saya suka adalah ketika Desmond yang setelah menyelamatkan begitu banyak nyawa akhirnya diturunkan dari tebing. Dia yang tengah kelelahan dan hampir mati, tersenyum lega menikmati angin sepoi yang berhembus. Meski tanpa berkata, saya seperti bisa mendengar saat itu dia sedang mengucap syukur kepada Tuhan karena bisa melaksanakan tugasnya dengan tetap melayani Negara sembari menyelamatkan banyak nyawa –bahkan musuh sekalipun.

Saya rasa Hacksaw Ridge adalah salah satu tontonan perang terbaik di masanya. Saya menyebut film ini sebagai film perang yang penuh kasih –hehe bisa aje lo. Film yang tidak saja asal dar-der-dor tetapi juga dengan matang membangun dan menjaga ceritanya tetap kuat.

Di awal saya katakan film ini menyindir saya sebagai orang beragama, karena terlepas dari agama yang dianut tokoh utamanya, bagi saya memang begitulah seharusnya hidup sebagai seorang pemeluk agama. Harus saling mengasihi antar sesama manusia –apalagi antar manusia yang sudah memeluk agama tertentu. Seyogyanya, bantulah sesama manusia –entah apapun latar belakangnya- seperti yang dilakukan Desmond yang menyelamatkan sebanyak mungkin manusia dari medan perang –bahkan musuh sekalipun.

Judul : Hacksaw Ridge | Sutradara : Mel Gibson | Durasi : 139 menit | Tema : Perang, Biografi, Drama, Sejarah | Tayang Perdana : 4 November 2016 (USA) | Pemeran : Andrew Garfield, Hugo Weaving, Vince Vaughn, Sam Worthington | Penilaian : 8,2/10 (IMDB)