Rabu, 15 Oktober 2014

Memang boleh terbilang sudah cukup lama berlalu hingga akhirnya saya memutuskan mulai menulis tentang tema patah kaki. Secarik tulisan ini mungkin bisa disebut bagian pembuka dari beberapa tulisan saya berkait patah kaki yang akan menyusul nanti -itupun jika saya rajin nulisnya nanti hehe.

Sekitar 8 bulan pasca operasi.
Begini… Berawal ketika tengah mengobrak-abrik isi komputer dan menemukan beberapa foto saya saat patah kaki dulu, saya kemudian seperti bernostalgia mengenang momen-momen saat itu. Terlarut dalam kenangan-kenangan tak terlupakan itu, saya lalu sekejap bertekad untuk tidak menunggu terlalu lama lagi dan harus mulai menulis mengenai tema patah kaki ini.

Untuk diketahui, saat ini saya sudah sembuh total dari patah kaki. Kecelakaan -lebih tepatnya ditabrak orang mabuk- dan berakhir pada patah kaki yang saya alami terjadi pada pertengahan tahun 2012 -tepatnya tanggal 1 juli 2012. Banyak hal yang terjadi semenjak saya kecelakaan dan patah kaki, hingga sampai sembuh total seperti sekarang. Mulai dari pertimbangan keluarga (ayah & ibu) apakah saya harus menempuh jalur medis atau pengobatan tradisional, bagaimana dan apa yang harus dilakukan selama masa pemulihan, terapi-terapi, dan sampai kepada momen “bebas bersyarat” dari patah kaki alias lepas pen dan bisa beraktifitas normal lagi. Saya ingin berbagi semua cerita saya itu karena saya yakin ada teman-teman yang pasti membutuhkannya sebagaimana saya dulu yang sangat butuh cerita dan pengalaman teman lainnya untuk tetap menyemangati saya.

Semasa patah kaki dulu saya begitu rajin guugling cerita tentang patah kaki. Saya kemudian berkenalan dengan Mila Kurniawati yang terlebih dulu mengalami patah kaki dan suka berbagi cerita atau pemgalaman, sering mengunjungi blognya (lihat disini) dan bahkan saya sempat bergabung di grup fb yang dibuatnya untuk selalu saling menguatkan antar sesama yang mengalami patah kaki -kalau ga salah nama grupnya SEHATI. Blognya mb mila juga menjadi salah satu ispirasi saya menulis tentang patah kaki.

Yang jelas saya ingin mengatakan bahwa mengalami patah kaki bukanlah serta-merta jadi akhir dari kehidupan. Mungkin ketika awal-awal mengalaminya kita akan merasa down yang sangat -saya dulu juga merasakannya, tetapi marilah tetap berfikir positif bahwa segala sesuatu yang terjadi (baik atau buruk) pasti ada hikmahnya.

Hingga kini saya sampai kepada kesimpulan bahwa mengalami patah kaki adalah suatu keberuntungan. Bagi saya keberuntungan karena tidak semua orang mengalami dan merasakan bagaimana rasanya patah kaki. Kita yang mengalaminya akan mendapat waktu istirahat yang panjang dan lebih banyak merenung tentang hidup ini.

Saat patah kaki saya menjadi tersadar bahwa ternyata ada begitu banyak orang-orang yang menyayangi saya -terutama ayah dan ibu, saya menjadi punya banyak waktu untuk membaca buku, dan yang terpenting saya merasa lebih dekat dengan Sang Pencipta. Untuk itu marilah tetap semangat, jangan mau kalah dengan hanya patah kaki. Segala sesuatu ada waktunya, dan saya percaya dengan pikiran yang positif, mengalami patah kaki akan membawa hidup ke arah yang lebih baik nantinya (^^)

0 comments:

Posting Komentar

Terima Kasih Sudah Berkunjung,

Mohon Tinggalkan Komentar Yang Konstruktif // Hanya Komentar Yang Berkualitas & Sesuai Dengan Isi Artikel Diatas Yang Akan Ditampilkan // Mari Saling Membangun

Salam (^^)