Memang boleh
terbilang sudah cukup lama berlalu hingga akhirnya saya memutuskan mulai
menulis tentang tema patah kaki. Secarik tulisan ini mungkin bisa disebut
bagian pembuka dari beberapa tulisan saya berkait patah kaki yang akan menyusul
nanti -itupun jika saya rajin nulisnya nanti hehe.
Begini… Berawal
ketika tengah mengobrak-abrik isi komputer dan menemukan beberapa foto saya
saat patah kaki dulu, saya kemudian seperti bernostalgia mengenang momen-momen
saat itu. Terlarut dalam kenangan-kenangan tak terlupakan itu, saya lalu
sekejap bertekad untuk tidak menunggu terlalu lama lagi dan harus mulai menulis
mengenai tema patah kaki ini.
Untuk diketahui,
saat ini saya sudah sembuh total dari patah kaki. Kecelakaan -lebih tepatnya
ditabrak orang mabuk- dan berakhir pada patah kaki yang saya alami terjadi pada
pertengahan tahun 2012 -tepatnya tanggal 1 juli 2012. Banyak hal yang terjadi
semenjak saya kecelakaan dan patah kaki, hingga sampai sembuh total seperti
sekarang. Mulai dari pertimbangan keluarga (ayah & ibu) apakah saya harus
menempuh jalur medis atau pengobatan tradisional, bagaimana dan apa yang harus
dilakukan selama masa pemulihan, terapi-terapi, dan sampai kepada momen “bebas
bersyarat” dari patah kaki alias lepas pen dan bisa beraktifitas normal lagi.
Saya ingin berbagi semua cerita saya itu karena saya yakin ada teman-teman yang
pasti membutuhkannya sebagaimana saya dulu yang sangat butuh cerita dan
pengalaman teman lainnya untuk tetap menyemangati saya.
Semasa patah
kaki dulu saya begitu rajin guugling cerita tentang patah
kaki. Saya kemudian berkenalan dengan Mila Kurniawati yang terlebih dulu
mengalami patah kaki dan suka berbagi cerita atau pemgalaman, sering
mengunjungi blognya (lihat disini) dan bahkan saya sempat bergabung di grup fb
yang dibuatnya untuk selalu saling menguatkan antar sesama yang mengalami patah
kaki -kalau ga salah nama grupnya SEHATI. Blognya mb mila juga menjadi salah
satu ispirasi saya menulis tentang patah kaki.
Yang jelas saya
ingin mengatakan bahwa mengalami patah kaki bukanlah serta-merta jadi akhir
dari kehidupan. Mungkin ketika awal-awal mengalaminya kita akan merasa down
yang sangat -saya dulu juga merasakannya, tetapi marilah tetap berfikir positif
bahwa segala sesuatu yang terjadi (baik atau buruk) pasti ada hikmahnya.
Hingga kini saya
sampai kepada kesimpulan bahwa mengalami patah kaki adalah suatu keberuntungan.
Bagi saya keberuntungan karena tidak semua orang mengalami dan merasakan
bagaimana rasanya patah kaki. Kita yang mengalaminya akan mendapat waktu
istirahat yang panjang dan lebih banyak merenung tentang hidup ini.
Saat patah kaki saya menjadi tersadar bahwa
ternyata ada begitu banyak orang-orang yang menyayangi saya -terutama ayah dan
ibu, saya menjadi punya banyak waktu untuk membaca buku, dan yang terpenting
saya merasa lebih dekat dengan Sang Pencipta. Untuk itu marilah tetap semangat,
jangan mau kalah dengan hanya patah kaki. Segala sesuatu ada waktunya, dan saya
percaya dengan pikiran yang positif, mengalami patah kaki akan membawa hidup ke
arah yang lebih baik nantinya (^^)

0 comments:
Posting Komentar
Terima Kasih Sudah Berkunjung,
Mohon Tinggalkan Komentar Yang Konstruktif // Hanya Komentar Yang Berkualitas & Sesuai Dengan Isi Artikel Diatas Yang Akan Ditampilkan // Mari Saling Membangun
Salam (^^)