Jumat, 12 Desember 2014

Disini saya akan bercerita tentang betapa pentingnya melakukan fisioterapi setelah mengalami patah kaki –atau patah tulang pada umumnya. Tetapi sebelumnya, untuk diketahui, saya tidak termasuk orang yang punya pengalaman mendalam dengan fisioterapi –mingkin hanya 3 kali fisioterapi saya ikuti. Ada beberapa alasan mengapa fisioterapi tidak rutin saya lakukan, namun alasan utamanya adalah: didaerah domisili saya tidak tersedia fasilitas fisioterapi, baik peralatan maupun SDM –bahkan segalanya berkaitan dengan ortopedi (gambaran minimnya layanan kesehatan ortopedi di daerah domisili saya bisa dilihat disini).
Begitu minimnya layanan kesehatan ortopedi di daerah tempat tinggal, membuat saya harus kembali menyeberang ke propinsi tetangga (Manado) untuk sekadar kontrol pasca operasi patah kaki.

Setelah bertemu dokter dan bercerita mengenai perkembangan kondisi tulang, dokter menyarankan untuk sering menggerakan kaki biar tidak kaku sendi.

“Bagaimana caranya dok?” saya bertanya dengan raut sedikit ketakutan tulang akan bergeser atau patah lagi jika digerakan.

“Dibantu tangan, gerakan secara perlahan keatas-kebawah,” dokter berusaha memberi penjelasan supaya saya paham, “Hmmm… begini saja, bagaimana jika saya beri pengantar untuk fisioterapi agar kamu punya gambaran mengenai apa yang tadi saya jelaskan.”

Setelah bercerita mengenai kondisi daerah domisili saya yang jauh, yang mana harus menempuh perjalanan panjang setiap hendak kontrol perkembangan patah tulang, maka demi membantu, dokter menyarankan untuk melakukan fisioterapi supaya dengan pengalaman itu saya bisa melakukan terapi tersebut di rumah secara rutin.

Besoknya, dengan membawa serta surat pengantar, saya diantar menuju tempat fisioterapi yang direkomendasi dokter.

Dari berbagai referensi, fisioterapi secara garis besar bisa saya artikan sebagai terapi fisik yang intinya melakukan berbagai latihan untuk mengembalikan fungsi tubuh tertentu kembali normal. Untuk patah tulang sendiri, fisioterapi biasanya dilakukan untuk: (1) memulihkan jaringan otot dan sendi yang bermasalah (mengecil dan kaku) akibat terlalu lama diistirahatkan; dan (2) latihan lainnya demi mengembalikan fungsi anggota tubuh yang mengalami patah tulang.

Begitu sampai di tempat fisioterapi, saya lalu ditanya ini dan itu oleh fisioterapis untuk diperoleh informasi yang akan menentukan latihan seperti apa yang cocok bagi saya. Setelah itu, saya diminta masuk ke ruang terapi.
Sebelum mendapat tindakan tertentu, kaki kanan yang mengalami patah tulang (bagian sekitar paha dan lutut) disinar dengan lampu-lampu bewarna merah selama sekitar 15 menit hingga terasa agak panas dan berkeringat. Setelah itu oleh fisioterapis kaki saya di angkat dan ditekuk-diluruskan-ditekuk-diluruskan secara perlahan. Ketika fisioterapis nya menekuk dan sudah mentok, dia beberapa detik tambah menekan untuk menambah sudut tekuknya. Katanya, untuk berhasil, latihan menekuk seperti ini tidak sekejap saja, melainkan harus rutin dilakukan. Latihan fisioterapi ini saya lakukan selama 30 menit.

Segala tahapan fisioterapi hari itu selalu saya ingat dengan saksama. Begitu kembali pulang, saya selalu melakukan gerakan-gerakan fisioterapi dengan rutin. Beberapa hal yang dilakukan sewaktu fisioterapi disesuaikan dengan keadaan di rumah, misalnya: (1) penggunaan sinar infrared saya ganti dengan berjemur dibawah sinar matahari pagi selama 20 menit –atau bisa juga menggunakan kompres handuk angat disekitar otot/sendi; dan (2) saya menggunakan minyak tawon untuk merilekskan otot sekitar lutut dengan cara di pijat perlahan. Ayah sering membantu ketika lutut saya hendak ditekuk-diluruskan-ditekuk-diluruskan.

Meski fisioterapi bertujuan untuk mengembalikan fungsi tubuh seperti normal, namun tujuan utama saya hanyalah demi bisa menekukan lutut/sendi yang sudah terlanjur kaku. Alhasil, dengan beberapa waktu melakukan terapi di rumah, lutut saya sudah hampir bisa menekuk penuh. Intensitas dan bentuk latihan menekuk kemudian bisa semakin berat disesuaikan dengan kondisi tulang yang semakin pulih.

Mungkin sampai disini dulu ceritanya. Nanti dibagian selanjutnya akan saya ceritakan bagaimana dan seperti apa bentuk latihan saya sampai bisa kembali berjalan dengan normal. Untuk memulai terapi saat baru masa pemulihan: sebaiknya konsultasi ke dokter dan fisioterapis (jika ada) apa bentuk terapi fisik yang cocok dengan kondisi cideranya, sebab setiap orang dengan kondisinya masing-masing pasti memerlukan cara penanganan yang berbeda pula.

Saya selalu ingat kata fisioterapis, katanya: untuk berhasil, latihan menekuk seperti ini tidak sekejap saja, melainkan harus rutin dilakukan.

0 comments:

Posting Komentar

Terima Kasih Sudah Berkunjung,

Mohon Tinggalkan Komentar Yang Konstruktif // Hanya Komentar Yang Berkualitas & Sesuai Dengan Isi Artikel Diatas Yang Akan Ditampilkan // Mari Saling Membangun

Salam (^^)