Selasa, 30 Desember 2014

Tentu saja pada awal masa pemulihan, setiap orang yang mengalami patah kaki tidak diperkenankan berdiri –apalagi berjalan- tanpa menggunakan alat bantu menyanggah tubuh. Di masa awal, kaki yang patah belum cukup kuat untuk bisa menopang berat tubuh sehingga beresiko tinggi mengganggu proses pemulihan/penyambungan tulang tersebut. Menurut cerita beberapa teman yang nekat berjalan tanpa alat bantu padahal kondisi penyambungan tulang belum cukup kuat, kebanyakan berakhir dengan tragedi terjatuh yang menyebabkan antara lain: tulang yang mulai menyambung harus kembali patah, pen yang menahan kedua bagian tulang bengkok, dll. Oleh sebab itu, hal yang hampir selalu terjadi bahwa setiap orang yang mengalami patah kaki pasti mempunyai alat bantu berdiri/berjalan yaitu tongkat andalan.

Tongkat bagi saya seumpama senjata. Saya tidak mungkin bertahan di medan perang tanpa senjata ini. Awalnya, begitu selesai operasi pasang pen, orang tua membelikan dua tongkat besar yang selalu dipakai kesana-kemari nantinya. Penggunaan tongkat besar itu dengan cara menyelipkan diantara ketiak kiri dan kanan. Pertama kali menggunakan tongkat pastinya canggung sebab tidak biasa, tetapi seiring waktu, saya jadi ahli menggunakannya.

Karena tidak biasa, maka untuk bisa menggunakannya harus melakukan latihan secara bertahap (tidak perlu terlalu memaksa diri). Hal yang harus diwaspadai sewaktu menggunakan tongkat pada awal masa pemulihan adalah tidak diperkenankan bertumpu dengan kaki yang patah, dengan alasan tulang yang belum cukup kuat. Jadi, di masa itu, saya selalu berayun dan menjadikan kaki yang sehat sebagai pijakan. Begitu mendapat restu dokter bahwa sudah bisa menggunakan kaki yang sakit untuk bertumpu, maka dengan setengah beban (belum bisa full) dan secara perlahan, kaki yang sakit mulai saya pakai sebagai tumpuan dalam menggunakan tongkat. Intensitas tekanan dari kaki yang sakit akan terus bertambah seiring dengan semakin baiknya penyambungan tulang.

Setelah beberapa bulan berlalu –bahkan mungkin satu tahun- saya mengganti tongkat yang besar itu dengan satu tongkat kecil yang bisa dilipat-lipat. Saat itu oleh dokter, patah tulang saya sudah dikatakan cukup kuat dan diberi ijin menggunakan satu tongkat saja. Berpikir daripada menggunakan tongkat besar, lebih baik saya membeli tongkat baru yang modelnya mini hingga bisa dengan mudah saya bawa kesana-kemari. Tongkat kecil ini menemani saya balik masuk kampus ketika cuti selama sekitar satu tahun.

Pemilihan tongkat sebagai alat bantu tidak wajib harus berbahan tertentu, atau merk khusus. Menurut saya, semua bahan atau merk apapun dapat dijadikan alat bantu berjalan yang penting fungsinya sesuai selama pemulihan patah kaki. Untuk keperluan tongkat ini, beberapa orang bahkan membuat sendiri dengan menggunakan kayu dll, dan itu bisa dengan baik digunakan.

Saat ini (setelah sembuh), tongkat yang besar sudah diberikan kepada saudara saya yang beberapa waktu lalu mengalami kecelakaan. Sedangkan tongkat yang bisa dilipat diberikan kepada nenek. Meski keduanya sudah diserahkan kepada orang lain, namun kenangan akan tongkat itu selalu saya ingat dengan baik.

0 comments:

Posting Komentar

Terima Kasih Sudah Berkunjung,

Mohon Tinggalkan Komentar Yang Konstruktif // Hanya Komentar Yang Berkualitas & Sesuai Dengan Isi Artikel Diatas Yang Akan Ditampilkan // Mari Saling Membangun

Salam (^^)